Albert Brooks: Woody Allen dari Pesisir Barat

Dalam artikel ini, Christian menulis refleksi dari hubungan antar manusia dalam balutan komedi yang dengan brilian direkam oleh Albert Brooks lewat karir penyutradaraannya. Ketika banyak komedian hebat yang hilang saat ini, berpetualang bersama visi Albert Brooks akan romantisme menjadi angin segar.

Sosok Albert Brooks lebih sering kita kenal sebagai Aktor daripada seorang Sutradara. Aktingnya sebagai sang antagonis dalam Drive (2011) ketika ia memerankan Bernie Rose menuai banyak pujian. Belum lagi beberapa karakter yang ia mainkan dalam sederet film box office lainnya seperti This is 40 (2012), A Most Violent Year (2014), Out of Sight (1998), Terms of Endearment (1983) dan debutnya di Taxi Driver (1976). Beberapa saat yang lalu saya mendapat kesempatan untuk menyaksikan sisi lain Albert Brooks dalam layar, yaitu sebagai Penulis dan Sutradara. Elemen komedi, roman dan absurditas manusia dalam repertoar Brooks sebagai pembuat film ternyata meninggalkan kesan yang spesial.

Albert Brooks Jakarta Cinema Club
Albert Brooks berperan sebagai Bernie Rose, seorang gangster senior di Los Angeles dalam film Drive (foto: Bold Films)

Karir Albert Brooks tak pernah lepas dari komedi. Ia bahkan rela melepaskan studi universitasnya demi merintis perjalanan di dunia komedi. Setelah melanglang buana di beberapa program televisi dan acara stand-up (album stand-up comedynya, A Star Is Bought, bahkan mendapat nominasi Grammy pada tahun 1975), Brooks tampak mulai percaya diri untuk melangkah lebih jauh: membuat film. 

Tidak bisa dipungkiri pula kalau materi hiburan yang diproduksi Albert Brooks disandingkan dengan karya-karya Woody Allen. Meskipun keduanya telah mengeksplorasi komedi sejak awal 1970an, baru menjelang akhir dekadelah judul-judul monumental seperti Annie Hall (1977) keluar dan mengubah sudut pandang terhadap pakem komedi romantis. Albert Brooks menulis dan menyutradarai sendiri debut filmnya, Real Life (1979) yang penuh dengan unsur satir. Di saat yang sama, Woody Allen merilis Manhattan (1979) sebagai jawaban dari penggemar barunya yang merasa kehilangan komedi di Interiors (1978). Keduanya kerap menjadi aktor dalam filmnya sendiri dengan karakter yang tampaknya tak akan pernah kehabisan bahan obrolan dan terkesan egosentris. Pada akhirnya, gelar The West Coast Woody Allen pun disematkan pada Albert Brooks. 

Albert Brooks Jakarta Cinema Club
A Star is Bought, album komedi Albert Brooks yang mendapat nominasi Grammy Awards (foto: Asylum Records)

Sayangnya Albert Brooks tidak terlalu banyak membuat film jika dibandingkan dengan Woody Allen yang konsisten membuat film tiap tahun sejak 1977 sampai saat ini. Ia lebih sering bermain sebagai aktor dalam beberapa dekade terakhir. Berikut adalah lima film Albert Brooks sebagai sutradara yang sangat berkesan bagi saya secara pribadi berikut refleksi singkat dari masing-masing film:

1 | Lost in America (1985)

Albert Brooks Jakarta Cinema Club
Lost in America, film ke-3 Brooks yang menuai banyak pujian karena membahas ide pencarian identitas kebebasan yang gagal di era Kapitalisme (foto: Geffen Film Company)

Pengambilan keputusan dalam karir memang sudah semestinya diambil secara hati-hati. Biarkan waktu berjalan bersama dengan pemikiran yang dalam. Konsep pencarian ulang identitas seperti Easy Rider (1969) ternyata gagal diterapkan oleh sepasang suami istri dalam film ini. Mereka dengan mudah keluar dari pekerjaan demi menjalankan kehidupan ‘bebas’ yang ternyata lebih keras dari yang mereka bayangkan. Film ini cocok untuk kamu yang setiap hari sering berimajinasi untuk keluar dari rutinitas untuk menggapai mimpi personal. Seberapa bebaskah sebenarnya kita bisa bergerak menuju apa yang kita inginkan (atau butuhkan?) di era kapitalisme seperti saat ini?

2 | Real Life (1979)

Real Life, debut Albert Brooks sebagai Sutradara yang menyorot kepalsuan dalam program reality show (foto: Paramount)

Reality show sudah eksis sejak puluhan tahun yang lalu. Masih terekam dalam ingatan ketika program televisi banyak beralih bentuk menjadi reality show dari yang mengeksploitasi kemiskinan sampai mengumbar kekayaan. Secara alami, kita mudah jatuh cinta dengan program seperti ini karena besar kemungkinan kalau kita mengira semua reality show itu berjalan tanpa rekayasa. Dari televisi sampai Youtube, reality show berevolusi tanpa mengubah banyak formula. Albert Brooks menyindir kepalsuan dari reality show dengan cara yang ekstrim. Tak ada yang mengira kalau sindiran ini ternyata masih relevan sampai 41 tahun berlalu.

3 | Mother (1996)

Kompleksitas hubungan Ibu dan anak yang ditelusuri lewat percakapan tanpa henti di film Mother (foto: Paramount)

Salah satu film terbaik tentang hubungan Ibu dan anak. Saya teringat sepenggal narasi Olivia Laing tentang bagaimana Edward Hopper, seorang pelukis impresionisme AS, yang seakan menghambat proses kreatif istrinya sendiri sepanjang umur pernikahan mereka. Potret sang istri tersebut bisa saya hubungkan dengan masa lalu karakter Ibu di film Mother (1996) yang memiliki misteri masa lalu yang terkunci sampai kedatangan si anak (bukan) kesayangannya. Apakah kita harus menggali cerita lama orang tua kita sampai akar agar kita dapat memiliki pemahaman atau pengertian yang setidaknya mirip dengan kita? Ataukah kita harus membiarkan begitu saja friksi yang ada antara hubungan kita dan orang tua?

4 | Modern Romance (1981)

Gambaran hubungan asmara modern yang fluktuatif dan dekat dengan budaya serba instan di Modern Romance (foto: Columbia)

Jauh sebelum Aziz Anshari menuliskan observasinya akan roman di era modern dalam bukunya yang berjudul Modern Romance (2015), Albert Brooks dan Woody Allen sudah menyuarakan perubahan pola pikir dalam suatu hubungan. Momok kodependensi tersorot jelas dalam visi Brooks terkait hubungan asmara. Fenomena ini terjadi ketika seseorang kecanduan akan ‘cinta’ versi dirinya sendiri, tak sadar kehilangan rasa hormatnya terhadap sang pasangan. Di saat yang sama orang tersebut menjadi sangat bergantung terhadap ide ‘bersama’ sebagai sebuah pasangan. Karakter dalam film ini terlihat belum berdamai dengan dirinya sendiri sehingga kerap memaksakan keputusan-keputusan yang diambil secara instan. Hal ini terus berkembang sampai saat ini ketika teknologi membuat kita selalu ingin perubahan yang instan. Kehausan akan hubungan yang instan ini dibahas lebih lanjut oleh Aziz Anshari di bukunya yang berjudul sama tersebut.

“How did you make this movie? I’ve always wanted to make a movie about jealousy.” -Stanley Kubrick, terkait Modern Romance

Baca juga: Modern Romance versi Albert Brooks

5 | Defending Your Life (1991)

Suasana persidangan pasca kehidupan yang Albert Brooks pentaskan dalam film Defending Your Life (foto: Geffen Film/Warner Bros)

Ketika kita meninggal, akan ada proses peradilan dengan hanya 2 opsi vonis: kembali ke kehidupan dengan identitas dan memori yang baru atau berlanjut ke fase pasca kehidupan yang hampir sempurna. Frase ‘hampir sempurna’ di sini saya tekankan karena tidak ada konsep surga dalam dunia Albert Brooks. Karakter yang ia perankan harus melihat kembali rekam jejak kehidupan masa lalu dalam proses peradilan karena ia dianggap memiliki rasa takut yang tinggi. Di satu sisi, para pengadil menganggap sebuah kehidupan kehilangan makna jika penuh dengan ketakutan. Apa yang membuat film ini semakin menarik sebenarnya adalah ketika dua manusia bisa saling jatuh cinta dalam proses pengadilan tersebut. Defending Your Life adalah sebuah drama fantasi yang idenya kelak akan dicuri oleh rentetan karya di masa depan. Film ini pula yang menutup pengalaman saya dalam menyelami absurditas kondisi manusia versi Albert Brooks.

Albert Brooks bersama kru dalam pembuatan film Modern Romance (foto: Columbia/Getty)

Sejauh ini, memang hanya Lost in America yang sudah saya tonton hingga dua kali. Hal ini dikarenakan ide awalnya yang sangat segar dan personal dengan penutup yang bisa dibilang menjadi sebuah peringatan untuk tetap sadar dalam realita. Namun keempat film lainnya tidak kalah kualitas jika kamu tertarik akan romantisme dalam kehidupan. Ia tampak ingin menegaskan bahwasanya film adalah film dan kehidupan nyata tidak akan pernah bisa seideal apa yang kita lihat di layar. Albert Brooks adalah sebuah emas yang pernah Hollywood miliki. Saya merasa kehilangan banyak figur komedian yang hilang ditelan opini masyarakat. Menonton karya Albert Brooks seperti menemukan angin segar di antara kemelut dunia saat ini. Andai saja dia masih membuat film..


Christian Putra, Jakarta Cinema Club

One thought on “Albert Brooks: Woody Allen dari Pesisir Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *