Keberahian yang Menantang Moral dalam The Housemaid (1960)

Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Peribahasa klasik ini sangat cocok untuk menggambarkan tragedi rumah tangga yang dikemas secara apik oleh Kim Ki-young dalam film The Housemaid. Refleksi singkat berikut merupakan salah satu aftertaste yang mungkin juga dirasakan penonton lainnya setelah menyaksikan film asal Korea Selatan tersebut.

Ketika kamu sudah mengorbankan kebahagiaan keluargamu demi materi dan pengakuan dari masyarakat, mungkin saat itulah alasan eksistensi hidupmu mulai dipertanyakan. Konflik demi konflik akan kamu hadapi tanpa tahu apa ada garis akhir yang menyenangkan.

Sebelumnya kita mesti tahu jika salah satu karakter dari cerita ini dapat memprovokasimu sampai titik tertinggi. Sang aktris tidak pernah dipakai dalam film apapun lagi karena masyarakat (di dunia nyata) menanam rasa kebencian terhadap karakternya.

Bayangkan keadaan ini: hidupmu sedang dalam fase yang indah. Semua seakan berjalan seperti diiringi dentingan sebuah piano. Orang-orang yang kamu cintai tak pernah jauh dari sisimu dan prinsip ‘kesetiaan adalah harga mati’ seperti sudah menyatu dengan keseharian. Ketika kamu membayangkan ini, mestinya kamu juga sadar kalau mendapatkan idealisme ini sangatlah mahal harganya.

Sekarang bayangkan jika situasi diatas sudah berada di titik puncak dan mulai jatuh ke titik terendah karena kehadiran sesuatu yang sebenarnya eksis karena rasa ketidakpuasan juga keibaanmu. Kehilangan. Murka. Nihil. Kekejaman film ini berlari terus bagai roda yang berputar tanpa kendali. Jika kamu punya sebuah ruangan empati untuk sang wanita ‘antihero’, maka ruangan itu akan penuh sesak dipenuhi rasa ibamu.

Pertanyaan: apakah kamu adalah seorang avonturir yang ingin merasakan sensasi ini?

Lee Eun-shim berperan sebagai seorang housemaid yang bernama Myung-sook (foto: Kuk Dong/Seki Trading Co.)

Film The Housemaid karya Kim Ki-young (1960) ini termasuk dalam rilisan fisik boxset yang merupakan bagian dari Martin Scorsese’s World Cinema Project. Rilisan ini berisikan enam film dari enam negara yang berbeda: Touki bouki (Senegal, 1973), Redes (Meksiko, 1936), A River Called Titas (India/Bangladesh, 1973), Dry Summer (Turki, 1964), Trances (Maroko, 1981) dan The Housemaid (Korea Selatan, 1960).

Baca juga: Lewat Djam Malam Kembali Mendunia & Review Taipei Story (1985): Keindahan dalam Ketidakpuasan, Ketakutan dalam Ketidakpastian


Christian Putra

Jakarta Cinema Club

One thought on “Keberahian yang Menantang Moral dalam The Housemaid (1960)

Komentar ditutup.