Lynn Shelton: Potret Semangat Independen yang Meninggalkan Kita

Nama Lynn Shelton mulai terdengar pada pertengahan dekade 2000an ketika ia membuat sebuah film independen berjudul We Go Way Back. Debut penyutradaraannya ini pertama kali diputar di acara Slamdance Festival pada tahun 2006 dan berhasil meraih penghargaan Best Narrative Feature. Tak sedikit dari kita yang terinspirasi oleh kisah pribadi persona yang lebih dulu mengeluarkan karya nan menyentuh lantas tergugah untuk juga menerbitkan sesuatu. Kasus ini juga terjadi pada Shelton. Claire Denis, sutradara kenamaan Perancis, merupakan sebuah sosok yang akhirnya memompa semangat Shelton untuk menyalurkan aspirasi dalam medium film. Ketika ‘We Go Way Back’ keluar, Claire Denis sudah meramaikan beberapa panggung penghargaan film kelas dunia: Chocolat (nominasi Palme d’Or Cannes 1988), Nenette and Boni (pemenang Golden Leopard Locarno 1996), Beau Travail (pemenang Reader Jury of the “Berliner Zeitung” Berlinale 2000) dan tentunya White Material (nominasi Golden Lion Venice Film Festival 2004). Nuansa teatrikal yang terdapat dalam kumpulan dialog di film We Go Way Back menyiratkan semangat luar biasa seseorang yang baru saja memulai kiprahnya di sebuah industri film yang besar. Jiwa independen ini terus dibawa Shelton sampai akhir hayatnya.

Debut penyutradaan Lynn Shelton yang berjudul ‘We Go Way Back’ (foto: Geisha Years)

Tahun 2011 adalah momen besar pada karir Lynn Shelton terlebih karena filmnya yang berjudul Your Sister’s Sister. Dramedi yang akan dikenang sepanjang masa ini mendapat tempat premiere di Toronto International Film Festival pada tahun yang sama. Awal dekade 2010an ditandai dengan mulai maraknya perkembangan film berbujet besar dengan tema superhero setelah dipupuk selama beberapa dekade sebelumnya. Judul-judul seperti X-Men First Class, Thor, Captain America, Mission Impossible: Ghost Protocol rilis di tahun yang sama. Belum lagi kelanjutan seri Pirates of the Carribean, Fast and Furious dan Harry Potter’yang meramaikan perang film besar tahun 2011. ‘Your Sister’s Sister’ mengimbangi gemerlap rentetan raksasa tadi bersama Midnight in Paris, Drive dan Bridesmaids.

Tak ada bintang yang relatif besar saat itu yang terpampang di poster resmi film ke-5 Shelton tersebut. Mark Duplass lebih dikenal sebagai aktor dan sutradara film independen. Mark menyutradarai film Jeff, Who Lives at Home pada tahun 2011 yang juga mendapat banyak pujian. Emily Blunt lebih sering tampil sebagai sidekick pemeran utama walaupun sudah menuai banyak penghargaan di penghujung 2000an lewat film The Devil Wears Prada dan The Young Victoria. Rosemarie DeWitt juga memiliki repertoar yang serupa. Istri dari Ron Livingston ini banyak berkutat di produksi film-film kecil dengan porsi peran yang tidak terlalu menjadi sorotan. Spotlight menerangi DeWill ketika karakternya di film Rachel Getting Married meraih tak sedikit penghargaan, salah satunya adalah Best Supporting Actress dari Toronto Film Critics Association Award. Chemistry dari ketiga persona ini menjadi bumbu yang sangat sedap dalam Your Sister’s Sister.

Trio Mark Duplass, Emily Blunt dan Rosemarie DeWitt dalam salah satu film terbaik 2011, ‘Your Sister’s Sister’ (foto: Ada Films/IFC)

Konten utama ‘Your Sister’s Sister’ didominasi oleh percakapan antara tiga insan dengan permasalahannya masing-masing. Hal ini sepertinya menjadi sebuah ciri khas dari Shelton. Bagi mereka yang berumur 30an dan sedang mengarungi petualangan asmara, orientasi seksual dan karir, tentunya topik pembicaraan dalam film dapat terasa dekat dengan rumah. Berumur dewasa terkadang diikuti oleh ekspektasi untuk bersikap dewasa pula. Apakah kedua fenomena itu harus bersinggungan? Di sinilah Lynn Shelton dengan pintar meramu semuanya menjadi sebuah kemasan yang sederhana namun memiliki makna yang cukup dalam.

Banyak orang berambisi untuk masuk ke dalam jajaran raksasa penguasa industri. Lynn Shelton memilih untuk mempertahankan tema dan semangat yang jujur merepresentasikan dirinya sebagai seorang seniman. Ia terkesan santai dan tidak berpikir bahwa keharusan untuk mendobrak tangga blockbuster itu melebihi segalanya. Hampir satu dekade telah berlalu pasca ‘Your Little Sister’ dan para penikmat film bisa dibilang menjadi semakin akrab dengan karya-karya Shelton. Touchy Feely (2013), Laggies (2014), Outside In (2017) dan Sword of Trust adalah beberapa highlight dari jejak Lynn Shelton sebagai sutradara film yang dapat merebut hati para penggemarnya. Setelah terlibat dalam beberapa episode serial TV New Girl, The Good Place, GLOW dan ehem.. Mad Men, ia mengambil kursi produser eksekutif dalam serial Little Fires Everywhere (adaptasi dari novel Celeste Ng) yang baru saja rilis tahun ini (2020).

Lynn Shelton dan Marc Maron ketika menghadiri pembukaan Seattle International Film Festival (foto: SIFF)

Lynn Shelton baru saja menutup perjalanannya beberapa hari yang lalu. Sutradara berusia 54 tahun ini meninggal dunia di Los Angeles. Bagi mereka yang tumbuh besar dalam pencarian jati diri di dekade 2010an, nama ini tentunya sudah tidak asing lagi. Dunia film sangat kehilangan persona independen yang satu ini. Terima kasih untuk semua percakapan yang menyentuh dalam semua karyamu. Selamat jalan, Lynn Shelton.


Jakarta Cinema Club