Perdebatan Antara Benar dan Salah dalam Suatu Hubungan di Marriage Story (2019)

Adegan pembuka Marriage Story (2019), film besutan Noah Baumbach yang dirilis tahun 2019, adalah penggambaran emosional betapa suatu hubungan yang terlihat nyaris sempurna dapat tiba-tiba hancur begitu saja. Kedua belah pihak sama-sama bercerita betapa mereka mencintai setiap sifat dan karakter masing-masing. Namun ternyata itu semua hanya sebuah cerita yang kini asing. Saya yakin hampir semua dari kita pernah mengalami hal yang sama: sedih, marah, kecewa, dan saling menyalahkan. Persis seperti yang terjadi pada Charlie (Adam Driver) dan Nicole (Scarlett Johansson), bukan?


Tidak ada yang tersisa dari hubungan Charlie dan Nicole kecuali seorang anak yang belum banyak mengerti secara gamblang tentang apa yang sebenarnya terjadi tapi memiliki kemampuan untuk bersedih. Mungkin ada sebagian dari kita yang mengumpat Charlie karena meniduri wanita lain. Atau mungkin menyalahkan Nicole karena kita anggap terlalu banyak menuntut. Seorang teman saya pun turut menyalahkannya. Tetapi, dalam kasus seperti ini, bisakah kita benar-benar memihak kepada salah satu?

Yang perlu kita ingat adalah, dalam membangun sebuah hubungan, apalagi rumah tangga, kita tidak bisa membuka mata hanya pada hal-hal baik yang ada dalam diri pasangan kita. Saya tahu ini terdengar seperti wejangan klasik, tetapi saya pun tahu bahwa hal tersebut tidak mudah diterapkan. Seberapa sering kita menghadapi friksi dan beradu mulut dengan pasangan kita meributkan sifat yang kurang baik dari masing-masing pasangan? Bagi yang sangat jarang atau tidak pernah, saya ijinkan untuk tidak lanjut membaca.

Pada adegan pembuka, kita bisa merasakan bagaimana Charlie begitu jatuh cinta pada Nicole yang ia sebut sebagai orang yang “can’t always tell what she wants, listener, listens too long, brewing a cup of tea she never drinks, and honest”. Ia tidak mempermasalahkan segala kelebihan dan kekurangan Nicole. 

Begitupun Nicole yang dengan lantang mengatakan ia mencintai Charlie yang “neat, organized, knows what he wants, competitive, loves being a dad, sometimes lies about something he hasn’t seen, and never let others’ opinions stop what he’s doing”. Tidak ada satupun yang mengganggu Nicole. Mereka sama-sama menyadari seperti apa sifat pasangan mereka, dan karenanya jatuh cinta.

Potret realisme polemik internal di Marriage Story (2019)

Lalu apa yang terjadi? Mereka tidak menyadari bahwa sifat sekecil apapun dari pasangannya, yang awalnya mereka banggakan, dapat menjadi bumerang yang menancapkan kebencian ketika bom waktu meledak. Contohnya, Nicole yang mempermasalahkan betapa terobsesinya Charlie dengan teaternya sehingga ia merasa hanya sebagai objek kesuksesan semata. Padahal, itulah Charlie yang tidak akan membiarkan apapun menghalangi apa yang ia lakukan, yaitu teaternya. Bukankah Nicole sudah menyadari sifat tersebut dari awal? Charlie pun begitu. Ia tahu Nicole adalah orang yang cenderung lebih senang mendengar daripada mengatakan apa yang menjadi keinginannya. Ia tidak benar-benar tahu apakah Nicole memang menginginkan karir bersamanya di teater, atau apakah Nicole ingin tinggal di kota lain dan mengerjakan apa yang ia sukai. Ironisnya, hal-hal tersebut, yang sejak awal sudah mereka telan, justru menjadi isu sentral di hubungan, dan akhirnya menghancurkan.

Dialog panjang di mana mereka bertengkar hebat akhirnya menjelaskan semuanya, bahwa pada dasarnya mereka hanya belum siap untuk berkomitmen bersama. Dan akhirnya, mereka sadar bahwa tidak ada pihak yang benar-benar salah. They’re wrong while they’re right. Sayangnya, semua sudah terlambat. Saya jadi ingat teman saya pernah mengirimkan kata-kata ini

to love someone long-term is to attend a thousand funerals of the people they used to be

Heidi Priebe

Kenalilah seseorang dan bersiaplah, sebab berkomitmen bukan hanya semata soal “usia siap nikah”. Konsep ini mirip dengan diskusi akan ‘keinginan’ vs. ‘kebutuhan’. Akhir kata, Marriage Story adalah film yang sangat kuat dan menyentuh siapapun karena pasti ada refleksi diri kita di masing-masing atau komposit dari karakter-karakternya. Menonton film ini seperti melihat proyeksi ego kita dari luar sebuah kaca transparan.


Runi Arumndari, Jakarta Cinema Club

Satu tanggapan untuk “Perdebatan Antara Benar dan Salah dalam Suatu Hubungan di Marriage Story (2019)

Komentar ditutup.