‘At Five In The Afternoon’: Perempuan dan Pendidikan

Dengan tema diskusi yang mengangkat perempuan dan edukasi, Sinemafeminis (salah satu program dari Jakarta Cinema Club) kembali bagaimana Kartini memperjuangkan hak-hak pendidikan bagi perempuan di Indonesia. Sebelum membahas karya dari Samira Makhmalbaf, saya akan melampirkan puisi favorit:

“A boy brought the white sheet
at five in the afternoon.
A frail of lime already prepared
at five in the afternoon.
The rest was death and death alone
at five in the afternoon.”

Federico Garcia Lorca

Karakter yang ada di dalam puisi Lorca digambarkan sebagai tokoh yang kuat tidak lupa dibumbui dengan bahasa yang menggambarkan suasana tragedy dan konflik pahit di kehidupan pedesaan. Dengan ini lantas diidentikan terhadap oposisi usang dibandingkan karya-karya Lorca lainnya yang secara monumental berbicara lebih lantang dari rejim-rejim represi. Sebagaimana film ini menjadi sangat konteks dalam dalam ruang transisional tersebut. Digambarkan dengan penyampaian karakter yang cukup apik, seperti layaknya pemeran utama, seorang gadis Afghani yang cukup representative bagi perempuan Afghan.

Film ini selayaknya kita membaca puisi, dari segi kisah seorang pemimpi yang ingin menjadi presiden hingga cerita yang kuat serta mengharukan. Tidak lepas dari New Iranian Cinema masih melabeli pergerakan film yang beberapa menghadirkan fraksi-fraksi kecil sebuah negara dengan hasil yang cinematic. Meskipun mengalami penurunan cerita di tengah adegan-adegan yang penting, film ini dibedakan oleh keanggunan dan kefasihan dalam gambar. Jiwa manusia dapat bertahan dari kekejaman dan represi yang paling tidak pernah terdengar, namun masih memiliki kemampuan untuk berharap dan bermimpi bahkan terhadap mimpi terbesar. Di bawah keadaan yang paling luar biasa, orang yang paling tak terduga bangkit menjadi pahlawan.

Terdapat pesan simpatik dan perhatian terhadap Era Afghanistan orde lama sebagaimana ditunjukkan oleh ayah dari karakter utama. Film ini juga membuat penonton berpikir untuk meragukan bahwa kota Afghanistan saat itu dalam kondisi penghujatan dan dunia yang selama ini telah terhenti. Makhmalbaf ingin mencerminkan apa yang terjadi di Afghanistan saat itu, seperti kepemimpinan perdana menteri Benazir Bhutto dengan pidato-pidatonya terhadap Taliban, lalu ada juga tentang Bin Laden dengan tema yang sangat krusial tentunya. Perpindahan kamera di film ini sangat sederhana sambil meluangkan beberapa waktu untuk menangkap beberapa esensi-esensi momen dan karakter, termasuk debat yang dipertunjukkan antara dua calon presiden di sekolahβ€”seperti mini dokumenter. Sementara wanita di film ini sedikit demi sedikit menemukan kebebasan, (ditunjukkan dengan memakai payung, berganti sepatu ber-hak tinggi, dan menunjukkan wajah dan sebagian rambut mereka), para pria berjuang dengan mempertahankan keyakinan mereka terhadap realita-realita baru dan semua orang, termasuk truk-truk pengungsi yang kembali dari Pakistan, menuju satu visi yaitu bertahan hidup.

Yang jadi pertanyaan adalah:

  1. Bagaimana sebuah negara, yang menjunjung tinggi martabat dan dosa, bisa membuka diri kepada dunia?
  2. Apakah pendidikan perempuan masih di rendahkan terhadap negara yang dihancurkan dunianya dengan laki-laki sebagaimana di-ajarkan bahwa mereka masih superior dibanding makhluk selain perempuan?

Untuk itu film ini seperti gong yang tepat pada waktunya. Perlukah mereka tertahan seperti ini selama bertahun-tahun? Mau sampai kapan? Sampai ini semua berlalu dan menjadi sebuah gulungan sejarah?

Pada akhirnya kita hanya berharap, berharap terhadap suara-suara muda yang lantang menyuarakan pesan yang melampaui batas dari kebangsaan dan agama.

Faradhilla