Halfway to Mars – Sliding out of February, ‘Call Me by Your Name’ & ‘Dilan 1990’

So it has been a journey since the man land on the moon, berkat Elon Musk yang super jenius (atau apapun yang orang bilang termasuk cem-cemannya Amber Heard akhir – akhir ini) , mewakili manusia, dia sudah meluncurkan sebuah mobil ke Mars. Dulu bulan, sekarang planet Mars. Berkah dari ketidakpuasan dan rasa penasaran Elon Musk, akhirnya gue sebagai orang awam berhasil merasakan apa yang orang jaman dulu liat di iklan MTV (ngga persis, tapi di mirip-miripin aja) “man on the moon”. Yaudah, apa hubungannya sama film? Ini baru intro, sabar dulu. Dari kedua film di atas yang sayangnya endingnya sedih atau bahagia, I found something in common; dissatisfaction and youngsters. Februari ini saya nonton dua film yang penuh cinta tapi ngga “cinta melulu”.

Mulai dari film pertama dulu deh, Guadagnino yang dipuja – puji seluruh dewa dewi yang ada di buku sejarah yunani alias hampir semua semesta mendukung – Call Me by Your Name. Pertama kali dikomporin temen suruh nonton ini, katanya kalo ganangis saya gaada hati. Oke, tantangan saya terima, let me make this clear, I did not cry at all. Sebagai salah satu film yang membawa konten LGBTQ alhamdulillah saya bisa melihat bahwa inti dari film ini adalah untuk menyukai orang apa adanya. Bahkan dapat dibilang saya ngga nangis, tapi sedihnya berasa. 

Dibentuk dari kamera 35mm semuanya serba perferkto  dan dapat dikatakan saya sebagai orang awam semakin merasa “awam”, ngeliat Italia disorot sebegitu bagusnya dan baju – baju serta settingan makanan serba vintage. Sesungguhnya film ini sangat manusiawi, saya kurang kenal Oliver tapi sepertinya sebelum bertemu dengan Elio, hidup bapak yang pada akhirnya bertunangan ini lempeng – lempeng aja. Namanya juga anak remaja, yang mungkin masih mencari jati diri, kemarin pacaran sama perempuan tapi suka sama figur lelaki yang mungkin lebih pandai dari dia. Awalnya kesel, lama – lama suka. Saut – sautan sejarah dan jujur-jujurannya yang entah kenapa berkaitan juga bener –bener bikin saya ngerasa ngga manusiawi, that raw. Unrequited, tapi kalo ngga diterusin sayang, abis diterusin dan sepertinya Elio sees it coming anyways, tetep sedih ditinggal Oliver tunangan. One vision of love dissatisfactions, entah Elio yang tidak puas hubungannya hanya sampai disitu atau Oliver yang memang tidak puas terhadap Elio sebagai pasangan. Lagi – lagi emosi Elio terlihat disini di layaknya semua hubungan manusia, dari penasaran lalu keterusan sampai mungkin dia mengkritisi diri – sendiri dengan mainan buah (sekali lagi namanya masih muda, penasaran sama buah juga termasuk).

Sedangkan bagi Dilan 1990 atau yang seringkali dikatakan beberapa khalayak umum sebagai Dilanku ini bukan berita baru. Film ini cukup bikin saya penasaran, karena saya sudah baca novelnya, dan tentu saja “kompor” dari khalayak teman. Maklumin juga masa muda saya diisi dengan sentilan – sentilan lucu Pidi Baiq, apalagi bandnya The Panas Dalam ketika saya masih di bangku sma. Setelah nonton, jujur awal – awal dialognya super cringey (but anyway, that’s how the book goes though) tapi lama kelamaan gemes sendiri, dan ini tolak ukur saya yang nonton dilan tiga kali. Tiga – tiganya semua penonton berisik dan bersuara, karena saking lucunya. Lokasinya di Bandung taun 90-an juga terlihat, rumah khas Bandung, apalagi dulu Bandung belum rame seperti sekarang, udah macet! Latar belakang Dilan yang sering tawuran pas SMA, juga sangat relevan dengan masa sma saya yang kebetulan di saat saya bersekolah di salah satu SMA negeri di Jakarta Selatan, hal ini sering terjadi. Adegan Milea menanyakan keadaan Dilan pra dan pasca tawuran menurut saya adalah sesuatu yang menjadi “sop” (karena lagi – lagi “ciri klasik” sebagian anak muda, dilarang tidak bisa tidak dilarang tetap dilakukan). Tapi yang buat saya menarik adalah akting dari Ikbal yang tidak sama sekali jelek (bagi saya). 

Dari semua film termasuk film barat yang sudah saya tonton, jujur Dilan termasuk dalam deretan film yang ceritanya hampir mendekati persis dengan novel. Jempol dua buat Fajar Bustomi dan Pidi Baiq. Saya sama sekali tidak merasa kecewa, hanya mungkin beberapa atribut busana perlu sedikit disesuaikan. Namun segala Bandung yang “hariung pisan” benar – benar muncul di Dilan, melihat dari kacamata anak remaja, gelisah dan perut kupu – kupu saat masa pdkt benar- benar terlihat ngga dibuat-buat. Bagaimana budaya sebagian besar anak muda di Indonesia, yang jika melihat “target” pacarnya berjalan dengan lelaki lain seketika itu rasa perjuangannya mundur (sama halnya dengan perempuan), ditunjukkan dengan jelas dalam film ini. The second vision of dissatisfaction di kisah anak muda Bandung yang ditunjukkan di Dilan 1990 lebih seperti rasa yang memotivasi “dua sejoli” tersebut akan status hubungan mereka untuk tetap terus diperjuangkan. Setelah melalui berbagai gombalan dan pantun yang benar – benar renyah dan segar bagi saya (dibandingkan dengan film cinta-cintaan yang keluar negeri) akhirnya mereka resmi berpacaran dengan tanda tangan di atas materai.In the end, i rest my case, bahwa masing – masing rasa ketidakpuasan dapat berujung happy ending atau tidak happy ending sesuai dengan kedua film tersebut. Dilan merasa termotivasi dengan ketidakpuasan keadaan dirinya dengan Milea, Elio merasa tidak puas jika hubungannya berhenti di situ saja dan rasa penasarannya tidak terobati terhadap Oliver. Eitherway, saya lebih memilih jika dalam satu film seperti Lalaland, ditunjukkan adanya alternatif lain, bahwasanya manusia seringkali bersikeras atau terlalu cepat menyerah dengan keadaan. Bayangkan jika Sebastian tidak terlalu berasumsi ketika Mia menerima telfon dari Ibunya, semua tentu dapat berubah bukan? Bagi saya, what ifs merupakan sifat kekanakkan yang tidak perlu dihilangkan, cinta seharusnya nothing to lose, bagi saya. Karena skema nothing to lose lebih baik daripada melihat film yang itu – itu saja serta memberikan rasa “nyaman”. Meskipun hidup tidak melulu tentang cinta, Call Me by Your Name dan Dilan 1990 actually gave a sight and insight of relief on the subjects (buat yang suka Guadagnino, trilogy Desire-nya jangan lupa ditonton ulang).

Ayudia Safitri

Satu tanggapan untuk “Halfway to Mars – Sliding out of February, ‘Call Me by Your Name’ & ‘Dilan 1990’

Komentar ditutup.