Teater itu Visual, Visual itu Teater: Berkenalan dengan Robert Wilson

Seorang anak lahir ke dunia dan ketika dia mulai tumbuh untuk belajar berjalan kemudian diliputi rasa penasaran untuk berlari-lari di halaman depan rumahnya, anak tadi terlihat sekali sedang memakai semua indranya untuk mengecap, mendengarkan, menerka sambil menggunakan imajinasinya untuk meraba dan mengeksplorasi Texas sebagai taman bermainnya.

Robert Wilson adalah seorang pemuda yang tumbuh dan besar di Texas. Setelah dia merasa sudah puas dengan Texas, Arizona menjadi tempat tinggal berikutnya untuk menimba ilmu Arsitektur dan Seni lukis sebagai pintu mengolah rasa dan kepekaan. Namun Robert masih mencari sesuatu agar bisa sampai pada puncak indrawinya. Dia melebarkan sayapnya menuju salah satu kota dengan mobilitas paling tinggi di dunia yaitu New York. Di sini pada akhirnya dia memasuki dunia Koreografi yang bisa menajamkan potensi tubuh fana miliknya itu agar menjadi sesuatu yang bisa membuat orang di sekitar terpukau.

Arsitektur, Seni Lukis, Koreografer dan seni tata cahaya panggung adalah semua bekal juga investasi yang sudah ditabung serta direncanakan oleh Robert Wilson. Elemen-elemen tersebut kini dirasa cukup matang untuk diperlihatkan pada dunia melalui perkawinan beragam sudut pandang Seni yang berbeda. Robert Wilson lalu memutuskan untuk menciptakan sebuah panggung Teater yang akan memanjakan mata dengan arus baru.

Potret Robert Wilson (foto: Digital Home Studio)

Teater yang terlahir dari pengabdian Robert Wilson benar-benar membuahkan hasil. Karya-karya awalnya sangat menyedot antusias masyarakat yang tertarik akan kesenian, ambil saja sebuah contoh: The King of Spain and The Life and Times of Sigmund Freud pada tahun 1969 yang membuatnya menjadi bahan perbincangan di jagad amerika.

Lewat karyanya yang berjudul ‘Einstein on the Beach’, Robert Wilson akhirnya dapat meraih popularitas di Eropa dan memperkenalkan pada dunia apa itu Teater Visual. Wabah Surealis dalam teater menyebar karena karya Wilson ini. Pada tahun 1983-1984 Wilson hampir saja mendapatkan The Pulitzer Prizes berkat karyanya yang berjudul The CIVIL warS: A Tree Is Best Measured When It Is Down’ yang ditampilkan pada ajang Olimpiade musim panas tahun 1984. 

The Life and Times of Joseph Stalin (foto: robertwilson.com)

Karya-karya Robert Wilson tidak hanya menghipnotis tapi juga menjadi si raja tega karena durasinya yang cukup panjang, seperti karyanya yang berjudul: The Life and Times of Joseph Stalin, punya durasi sebanyak 12 jam meski dibagi menjadi 12 babak, atau KA MOUNTain and GUARDenia Terrace yang ditempatkan di atas gunung Iran dan mempunyai durasi sepanjang 7 hari lamanya dengan cara membagi satu hari satu babak cerita tematik.

Robert Wilson pernah berkolaborasi dengan seniman, musisi, sastrawan, komposer, model dan juga para pemahat patung yang paling termasyur di dunia. Salah satu dari kolaborasi yang unik adalah dengan Lou Reed dari band The Velvet Underground yang mementaskan kisah Edgar Allan Poe. Robert juga pernah mengolah potret Lady Gaga menjadi karya lukisan Renaisans The Death of Marat, bekerja sama dengan aktor kawakan Willem Dafoe dan masih banyak yang lainnya.

Dengan bekal pengalaman dan pengetahuannya, akhirnya Robert Wilson mengabadikan salah satu artefak kebudayaan bumi pertiwi Indonesia menjadi sebuah teater. Robert wilson berhasil menjinakkan sebuah Epos serta karya sastra terpanjang di Indonesia yang merupakan asli produk budaya masyarakat suku kuno Bugis yang berjudul I La Galigo. Lewat La Galigo, Robert berhasil memperkenalkan karya tersebut ke seluruh dunia.

Kini di masa kejayaannya yang sedang menduduki gelar “Bapak Teater Visual Dunia”, Robert Wilson membangun sebuah studio dan laboratorium seni pertunjukan yang humanis bernama The Watermill Center.

Nah sekarang mari kita melihat foto-foto serta dokumentasi akan kekaryaan Robert Wilson ini:

Willem Dafoe dalam pertunjukan ‘The Old Woman’ (foto: BAM)
The Death of Lady Gaga karya Robert Wilson yang terinspirasi oleh lukisan Jacques-Louis David yang berjudul ‘The Death of Marat’
Einstein on the Beach (foto: robertwilson.com)
POEtry, a musical journey through the works of author Edgar Allen Poe, kolaborasi Robert Wilson dengan Lou Reed (foto: robertwilson.com)
Eda, pertunjukan karya Jon Fosse and Robert Wilson (foto: robertwilson.com)
Turandot (foto: robertwilson.com)
Pertunjukan teater outdoor di salah satu gunung di Iran, ‘KA MOUNTAIN AND GUARDenia TERRACE’ (foto: Asian Society)
Adam’s Passion, pertunjukan musikal yang diambil dari salah satu cerita Alkitab: Jatuhnya Adam (foto: Scenography Today)
I-La Galigo, sebuah pertunjukan yang diadaptasi dari mitos suku Bugis, Sulawesi Selatan

Saking indahnya karya teater beliau jika kita melihatnya dari sebuah foto maka yang akan terasa adalah kita seolah-olah sedang melihat Seni Lukisan bergaya Renaisans, Surealis dan Gothic.

Jika hidup ini adalah sebuah panggung sandiwara maka buatlah panggung sandiwara tersebut seindah karya-karya Robert Wilson.


Edvan Apriliawan, Jakarta Cinema Club