Troma dan Film Indonesia pada Masa Orde Baru

Apa hubungan antara pasar perfilman Amerika Serikat dan masyarakat Indonesia pada masa Orde Baru? Semuanya mempunyai motif obyektif dan subyektif. Dari segi objektivitas, kita bisa melihat bahwa fakta di luar sana film-film Amerika sedang menginvasi seluruh dunia. Secara subjektivitas, kita sadar dengan fakta di Indonesia, yang menyebut Ibukotanya sebagai The Big Durian, ingin sekali bisa setara dengan The Big Apple di AS. Maka dari itu, banyak film lokal dibuat dan berusaha agar bisa terlihat seperti film buatan Amerika. Troma dan Indonesia ternyata memiliki sebuah jembatan dalam fenomena ini.

Artikel ini adalah kelanjutan dari Dialektika Film Kelas B dan Produksi Troma Studios yang diterbitkan pada tanggal 20 Mei 2020.

Lloyd Kaufman, pendiri Troma Studios (foto: Tromemoir)

Tak dapat dipungkiri kalau masyarakat Indonesia juga jadi ikut-ikutan suka akan film berunsur kekerasan, seksualitas, dan gaya hidup yang Bohemian

Dari banyaknya jenis genre yang ada, film laga sedang sangat digandrungi masyarakat kita pada saat itu. Film bergenre horor pun tidak jarang memiliki adegan laga di dalamnya. Hal ini terjadi mungkin karena adanya dampak paham orde baru yang memoles Indonesia sebagai negara berbudaya, kuat, tanpa celah dan selalu bersih dari moral yang rusak. Oleh karena itu, ibarat himbauan, jika mau merebut hati masyarakat lokal dan juga ingin menjadi salah satu seni media yang dapat mewakili bangsa ini di pasar internasional, buatlah film dengan memakai aktor asing di dalamnya. Tidak berhenti disitu, para produser juga dapat menyertakan adegan aksi yang bombastis. Jangan lupa juga masukan produk budaya asli nusantara agar terlihat semakin artistik.    

Film kelas B pada saat itu marak sekali di Indonesia yang sedang belajar dan memahami cultural shock dalam perfilman Amerika maupun Eropa. Tak dapat dipungkiri kalau masyarakat Indonesia juga jadi ikut-ikutan suka akan film berunsur kekerasan, seksualitas, dan gaya hidup yang Bohemian

Dari sinilah Troma Studios melihat bahwa Indonesia bisa dijadikan panggung pertunjukan selanjutnya. Film bertemakan aksi heroik berjudul Jakarta muncul. Untuk pasar internasional dan dalam negeri, film ini diberi judul Peluru dan Wanita. Kedua judul tadi sangat sederhana dan menjual bukan?


Troma dan Film Indonesia lewat Jakarta (Peluru dan Wanita, 1988)
Poster film Jakarta atau Peluru dan Wanita produksi Troma (foto: Troma)

Jakarta (Peluru dan Wanita, 1988, dir. Charles Kaufman)

Film Indonesia produksi Troma ini berkisah tentang seorang Agen CIA bernama Falco yang hidupnya menjadi tidak terarah di New York pasca kejadian yang menimpanya di Jakarta beberapa tahun silam. Dalam menjalankan tugasnya di Jakarta, Falco kehilangan seseorang yang amat dia cintai, hingga suatu ketika dia harus kembali lagi ke kota yang baginya terkutuk itu dengan cara yang tidak menyenangkan dia kembali ke Jakarta. Dia dibius dan diculik.

Ini adalah film pertama bagi Chris Noth, seorang aktor yang nantinya akan terkenal lewat perannya sebagai Mr. Big di serial TV Sex and The City. Chris Noth memulai debutnya dengan ditemani oleh Suzee Pai yang dikenal melalui film berjudul Big Trouble in Little China (1986) karya John Carpenter. Film ini turut didukung oleh Aktor senior Indonesia Frans Tumbuan. Lalu pada bangku sutradara, Peluru dan Wanita direalisasikan melalui tangan Charles Kaufman yang notabene merupakan saudara kandung dari Lloyd Kaufman.

Jakarta atau Peluru dan Wanita bisa dibilang merupakan salah satu pionir film bergenre Neo-noir di Indonesia. Film ini kental akan suara narator yang mendramatisir keadaan, karakter hero yang penuh keputusasaan juga kesepian, masa lalu yang terus menghantui dan sosok love interest yang misterius. Faktor yang paling penting muncul juga adanya unsur balas dendam di dalamnya.

Dari desain posternya, kita bisa melihat betapa artistiknya sebuah genre Neo-noir tersebut. Coba bayangkan adegan ini: sosok tokoh utama yang sedang waspada melihat keadaan dari celah jendela, lalu ditemani oleh sosok gadis misterius dengan wajah setengah tertutup rambut sambil membawa sebuah pistol. Adegan ini menjadi semakin eksotis dengan potret sang bintang yang mengenakan gaun biru dengan anggun. Poster film ini menjadi makin lengkap dengan typeface berjudul Jakarta dengan sosok Naga di atasnya.     

Gemerlap lampu kota New York dan suara saxophone bisa diterjemahkan menjadi riuh suasana Cikini, Kalipasir, Senen dan Ancol. Belum lagi adegan kejar-kejaran mobil di jalan raya dan gang-gang sempit, berburu target sambil memanjat rumah-rumah padat penduduk sampai ke gedung-gedung kumuh yang banyak sekali terdapat di Jakarta. Hal ini mungkin merupakan salah satu bentuk kekaguman Troma terhadap Indonesia. Melalui film ini juga kita bisa tahu kalau Jakarta dulu punya tempat hiburan yang menampilkan atraksi kabaret dan mempunyai bioskop berkonsep Drive-in


Troma dan Film Indonesia lewat Ferocious Female Freedom Fighters (Perempuan Bergairah, 1982)
Poster film Ferocious Female Freedom Fighters atau Perempuan Bergairah produksi Troma (foto: Amazon)

Ferocious Female Freedom Fighters (Perempuan Bergairah, 1982, dir. Jopi Burnama dan Charles Kaufman)

Untuk pasar dalam negeri, film Indonesia produksi Troma ini diberi judul Perempuan Bergairah, sedangkan untuk distribusi internasionalnya, film ini diberi judul Ferocious Female Freedom Fighters. Film ini disutradarai oleh Jopi Burnama dan Charles Kaufman. Sesuai judulnya, film ini memiliki tokoh utama seorang wanita yang berprofesi sebagai Pegulat. Tidak seperti film Jakarta yang mempunyai tokoh utama seorang aktor Amerika, di sini Eva Arnaz lah yang jadi aktris utamanya dan Barry Prima dipasang sebagai sosok love interest.

Troma dan Film Indonesia lewat Ferocious Female Freedom Fighters (Perempuan Bergairah, 1982)
Salah satu adegan yang menampilkan pertandingan gulat di film Perempuan Bergairah produksi Troma (foto: MUBI)

Ferocious Female Freedom Fighters bercerita tentang seorang pegulat wanita profesional bernama Renny basuki yang memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi karirnya. Karena dia terus mendapatkan paksaan dari ibunya, yang juga mantan pegulat profesional, ia tetap meneruskan pekerjaannya tersebut. Dilema ini ditambah dengan kondisi di mana kakaknya yang sedang memerlukan uang untuk melanjutkan proses operasi yang sedang dijalaninya. Premis yang unik ini menjadi ciri khas kerja sama Troma dan sinema Indonesia


Ilustrasi keadaan kota pada dekade 1980an (foto: Pexels)

Film Kelas B

Problematik film kelas B sudah lama terbentang sepanjang sejarah sinema. Selama usia film itu sendiri, sudah saatnya untuk kita mengapresiasi juga memberi ruang agar bisa mengerti makna kenapa film kelas B itu eksis. Alasan mengapa film kelas B menjadi bagian penting dari sejarah film akan memberikan pemahamanan baru tentang keberadaan mereka. Oleh karena itu, penting sekali untuk memaknai film kelas B sebagai aktivitas kreatif manusia. Sayangnya para filmmaker dan industri film raksasa masih sering kali menaruh persoalan film kelas B secara tidak serius dan sekedar memberi pemahaman singkat.

Karena seperti hidup yang seharusnya dihayati tanpa pamrih dan tanpa pilih-pilih, kita tidak harus lagi berkomentar tentang kasta sosial penikmat film dan menganggap film haruslah yang ‘berat-berat’ saja.

Dunia Seni Rupa mengenal dan sudah mengakui juga menaruh kehormatan terhadap aliran seni Dadaisme yang merupakan wujud perlawanan bahwa seni adalah sesuatu yang harus tinggi, mahal, serius, rumit dan eksklusif. Dengan pemahaman tersebut, maka di dalam dunia film sudah saatnya kita ikut memaknai gerakan film kelas B sebagai sesuatu yang kuat seperti aliran dan gerakan seni Dadaisme tadi. Jika film kelas B adalah sebuah nasib untuk dunia perfilman maka dia adalah Amor Fati atau sebuah nasib yang bukan untuk ditolak, dilawan, melainkan dicintai. Bahkan kalau itu adalah nasib yang buruk sekalipun, maka jika dunia film sudah dapat mencintai industri film kelas B, saat itu juga akan tercipta frasa Fatum Brutum Amor Fati.

Karena seperti hidup yang seharusnya dihayati tanpa pamrih dan tanpa pilih-pilih, kita tidak harus lagi berkomentar tentang kasta sosial penikmat film dan menganggap film haruslah yang ‘berat-berat’ saja. Film adalah media yang bisa melepaskan kita dari hiruk-pikuk, membuat sensasi ruang lingkup yang nyaman, menjadi media relaksasi, seperti seolah-olah sedang melihat ikan-ikan berenang atau merasakan teduhnya rimbunan pohon. Film juga sejatinya bisa menimbulkan kesan sejuk seperti momen sehabis mandi. Troma dan sinema Indonesia adalah salah satu contoh yang baik untuk mendeskripsikan perasaan tersebut.

Poster ‘Occupy Cannes 2017’ yang dibuat oleh penggemar setia Troma (foto: Horror Society)

Sampai saat ini, Troma Studios telah memproduksi dan mendistribusikan lebih dari 1000 film independen. Troma sudah punya pasar dan  ekosistemnya sendiri. Dilengkapi dengan lahirnya para penggemar di seluruh dunia yang selalu mendukung kinerja Troma dalam membuat karya, beberapa film Troma bahkan sudah ada yang ditampilkan di ajang internasional sekelas Cannes. Dana untuk pembuatan karya di Cannes tersebut bisa tercukupi berkat adanya fans yang dengan ikhlasnya memberi bantuan untuk Troma dalam pembuatan film.

Di usianya yang telah menginjak 46 tahun, Troma sudah memberi banyak inspirasi tentang pentingnya konsistensi dan semangat pantang menyerah.

Yang tidak kalah unik adalah ketika Troma tidak sedang membuat karya, maka seluruh peralatan di dalam Troma Studios akan disewakan untuk anak muda yang sedang ingin belajar membuat film. Troma Studios membuat satu divisi Startup untuk penyewaan alat-alat film bernama ‘Kitsplit’. Di usianya yang telah menginjak 46 tahun, Troma sudah memberi banyak inspirasi tentang pentingnya konsistensi dan semangat pantang menyerah.

Sebagai penulis artikel ini, ketertarikan saya pribadi pada tontonan film kelas B tumbuh dan berkembang sama halnya seperti saya juga menyukai berbagai genre film-film lainnya. Dikarenakan artikel yang membahas budaya film kelas B belumlah begitu banyak, maka saya ingin sekali untuk mencoba membuatnya sebagai apresiasi dan  dedikasi untuk film kelas B pada umumnya dan Troma pada khususnya. 

Jayalah terus industri film kelas B!


Edvan Apriliawan, Jakarta Cinema Club