Dialektika Film Kelas B dan Produksi Troma Studios

Humor adalah satu dimensi yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Saat ini, setiap saat kita bisa melihat humor di berbagai media sosial yang sudah pasti selalu ada dalam genggaman tangan kita. Kita akan meresponnya dengan ketikan ibu jari dan membalasnya dengan komentar yang menggelitik juga seperti: aduh humorku payah, aduh humorku pasaran dan sebagainya.

Jika kita membahas produksi film Troma yang identik dengan Film kelas ‘B” dan humor,  maka kita harus tahu apa makna humor sebenarnya. Jika disandingkan dengan demokrasi, Sinisme, atau bahkan anarki, maka humor juga memiliki kajian filsafatnya tersendiri. Pada saat ini, banyak orang menghargai apa itu humor atau komedi. Fenomena ini tidaklah berlaku di abad awal peradaban manusia pada zaman filsuf Yunani. Humor saat itu tidak punya tempat seperti saat ini dan apa yang mereka lihat dari humor atau kegiatan lelucon adalah komentar yang kritis. 

Troma Studios memproduksi film kelas ‘B’ dan komedi sejak tahun 1974 (ilustrasi: Ethem Onur Bilgiç)

Plato menulis bahwa kegiatan lelucuan adalah satu tindakan yang bodoh.

Kita ambil contoh dari Plato yang mana terdapat dalam buku Republik. Plato menulis bahwa kegiatan lelucuan adalah satu tindakan yang bodoh. Aristoteles juga setuju dengan pendapat Plato tadi bahwasannya seseorang yang terlalu fokus pada kegiatan humor sama dengan melakukan tindakan yang kasar dan tidak patut untuk ditiru. Thomas Hobbes tidak lebih baik dalam menanggapi apa itu humor. Menurut Hobbes, semua ekspresi emosi yang dikeluarkan manusia adalah refleksi diri atau cara dalam menilai orang lain terhadap dirinya sendiri. Dengan kata lain, humor adalah tidak lebih dari ejekan untuk orang lain ataupun cara untuk menertawakan diri sendiri.

Barulah pada abad 18, dengan berbagai proses perlawanan yang panjang dan melelahkan, humor bisa mendapat tempat yang setara dengan kegiatan bermartabat lainnya. Inilah masa pencerahan bagi “humor” filsuf era modern seperti Immanuel Kant, Kierkegaard dan Schopenhauer yang menjadi pionir untuk memperbarui makna humor tersebut.

Analogi ini sama dengan movement yang ingin disampaikan Troma dalam membentuk kekaryaan dan menciptakan film. Pergerakan ini cenderung mendapatkan respon yang negatif dan olok-olok karena film produksi mereka yang tidak sesuai tata krama dunia perfilman Hollywood. Bukan bermaksud menjelekkan sistem kerja filmmaker besar Hollywood, tapi pandangan kalau film itu wajib berdana besar, kaya akan efek yang spektakuler atau ledakan di sana-sini lah yang sebenarnya patut dikritisi. Komentar ini akan menciptakan miskonsepsi pengeneralisasian bahwa seperti inilah film bagus itu. Sementara film kelas “B” semacam yang dibuat Troma Studios tidak layak mendapat ruang dan apresiasi.   

Pergerakan Troma cenderung mendapatkan respon yang negatif (foto: Spinechillers)

Lalu kenapa Troma tetap konsisten dengan kekaryaan mereka dan mempertahankan ekosistem film mereka? Padahal pasar film di Amerika sendiri sudah dapat kita bayangkan keberpihakannya saat industri film Hollywood makin menunjukkan kehebatannya. Saya melihat Troma seperti ingin menjadi sesuatu yang berbeda dengan menciptakan pasar dalam industri perfilman. Kita tahu sejatinya menciptakan pasar dan memutarkan roda ekonomi di dalamnya tidaklah mudah.

Manusia akan berfokus untuk mengikuti kemauan pasar dan beradaptasi di dalam ekosistem.

Horkheimer punya pemikiran bahwa akal budi manusia itu tidak netral. Secara obyektif, ia akan memiliki tujuan tertentu yang harus dikejar. Kehidupan tidak pernah berhenti dan tujuan semakin panjang. Manusia akan berfokus untuk mengikuti kemauan pasar dan beradaptasi di dalam ekosistem. Pemikiran ini adalah hal yang normal bila ingin bertahan hidup.

Bukan berarti tidak bisa menciptakan pasar, sejatinya manusia itu memang pasti bisa memproduksi. Sebuah hasil mungkin tidak bisa secepat yang diharapkan, dan itu pun butuh penyesuaian. Maka dari itu, pada umumnya jalan terbaik adalah mengikuti kemauan pasar dan terus bekerja sesuai perubahan pasar. Kurang lebih itulah definisi ‘normal’. 

Tentunya ada masa di mana orang-orang yang berpikir keluar dari kotak-kotak normal tadi bermunculan. Pada akhirnya, media hanyalah sebuah pilihan, begitupun niat dan usaha untuk menciptakan ruang lingkup film. Mulai dari konsep cerita, naskah sampai storyboard, dari film avant-garde sampai video art, semuanya punya peluang untuk bisa dipilih. 

Horkheimer adalah seorang filsuf yang dapat melihat bagaimana industri itu bekerja. Maka dari itu, saya melihat bahwa pendiri dari Troma Entertainment adalah seorang filsuf juga. Dialah pionir dari film yang melawan arus utama. Dia bisa menciptakan industri film kelas “B” secara konsisten. Selain itu, dia juga membangun ekosistem di mana ada banyak sekali orang-orang yang bergantung dan bekerja di dalamnya, mulai dari Sutradara, Aktor dan Aktris, Penulis Skenario, Produser, Departemen perfilman, Exhibitor, Figuran film, sampai Kru-kru di belakang layar. Semuanya membutuhkan ekosistem ini  untuk terus hidup atau sekedar menjaga stok makanan dan api periuk di dapurnya agar tetap tersedia dan terus menyala.

Para pendiri Troma Studios, Lloyd Kaufman dan Michael Herz, dalam sebuah set film pada tahun 1988 (foto: Gracenote)

Horor komedi adalah mesin uang utama Troma.

Troma Studios didirikan pada tahun 1974 oleh Lloyd Kaufman dan Michael Herz dengan cita-cita ingin menghidupkan lagi kejayaan era film-film Horor seperti pada tahun 1950-an yang minim bujet dan menghibur. Dalam prosesnya, Troma Studios juga mengembangkan sayap ke ranah Drama Komedi, Komedi Aksi atau murni Komedi Gelap. Satu yang pasti, Horor Komedi adalah mesin uang utama mereka.

Horor dan komedi mungkin terlihat sangat berbeda namun sebenarnya punya elemen yang sama dalam dunia film atau lebih tepatnya seperti paralel. Hal ini disebabkan oleh beberapa elemen yang punya kesamaan: film berunsur komedi harus membangun suatu ekspektasi lalu melepaskannya ke sesuatu yang tidak terduga atau tidak sesuai ekspektasi sampai akhirnya menciptakan sesuatu yang lucu. Kondisi ini sama seperti saat menunggu punchline dari materi seorang Stand up Comedian. Begitu pula film Horor, yang mana pembangunan dan pelepasan ketegangan tadi diramu menjadi sebuah plot. Strategi plot inilah yang akan menjadi momen horor sesungguhnya.

Rata-rata film komedi yang beredar selalu punya rating yang tidak begitu tinggi meskipun berbujet besar. Film Horor bisa memiliki rating tinggi meskipun bujetnya rendah.

Lloyd Kaufman cermat melihat peluang pasar di luar arus utama dengan secara sederhana berpaku pada prinsip ekonomi (foto: Forbes)

Perbedaan yang muncul dari observasi saya adalah data yang menunjukkan kalau rata-rata film komedi yang beredar selalu punya rating yang tidak begitu tinggi meskipun berbujet besar. Selain itu, film Horor bisa memiliki rating tinggi meskipun bujetnya rendah. Kejelian dalam mengkombinasikan persamaan dan perbedaan tadi adalah kemampuan khusus yang dimiliki Troma Studios. Di sinilah Troma Studios melihat sebuah fenomena dengan sudut pandang yang unik: kenapa tidak membuat film berunsur komedi dan Horor saja agar bisa tetap berbujet rendah dan tidak perlu mendapat rating yang tinggi? Pemikiran ini muncul karena memang bukan itu yang mereka kejar dan capai. Troma menginginkan target pasar yang khusus yaitu mereka yang memang benar-benar mencari film dengan cita rasa berbeda sambil dipenuhi pertanyaan “kok ada yah yang mau bikin film kayak gini?”

Film berbujet rendah bukan berarti murahan. Sometimes campy is good karena film-film Horor kelas B bisa lepas dari semua tata krama sebuah dunia film yang diatur oleh para agensi besar. Begitu pun arena lombanya, yang kaya akan syarat dan ketentuan berlaku. Meski begitu, Troma Studios tidak menutup mata pada tren dunia film yang terjadi. Mereka tetap melihat genre mana yang paling diminati masyarakat Amerika pada umumnya.

Data distribusi pasar lintas genre tahun 1995-2020 (sumber: The-Numbers)

Peringkat paling tinggi dari produksi Troma Studios adalah sebagai berikut:

  1. The Toxic Avenger ( Action, Comedy, Horror )
  2. Tromeo and Juliet ( Action, Comedy, Drama, Romantic )
  3. Poultrygeist: Night of Chicken Dead (Comedy, Horror, Musical )
  4. Return to Nuke ‘em High School Volume 1 (Action, Comedy, Drama )
  5. Jakarta (Action, Drama, Mystery )
  6. Mutant Blast (Action, Comedy, Horror )
  7. Troma’s War (Action, Adventure, Comedy )
  8. Terror Firmer (Comedy, Horror )
  9. Bloodsucking Freaks (Crime, Horror, Dark Comedy )
  10. Sgt. Kabukiman N.Y.P.D. (Action, Comedy, Crime ) 
Tim ‘Tromeo and Juliet‘, film produksi Troma yang ditulis dan diproduseri oleh James Gunn jauh sebelum karirnya bersama Marvel (foto: Troma)

Judul film yang eye catching, sinopsis yang tidak biasa  adalah wajah dari Troma Studios. Satu yang perlu diingat yaitu mereka tidak pernah menyajikan sesuatu yang terkesan clickbait. Bila judul filmnya adalah Bloodsucking Freaks, maka kalian benar-benar akan menemukan si aneh dan si haus darah tersebut di dalamnya. Troma adalah salah satu kreator yang jujur dalam berkarya. Apabila kalian ingin tahu beberapa fakta unik, ternyata beberapa bintang yang kita kenal selama ini memulai karirnya lewat Troma. Sebut saja : J.J Abrams (Nightbeast), Billy Bob Thornton (Chopper Chick in Zombietown), Kevin Costner (Sizzle Beach USA), Samuel L. Jackson (Def by Temptation), Marisa Tomei (The Toxic Avenger), James Gunn (Tromeo and Juliet). Trey Parker dan Matt Stone, sang  pencipta serial animasi sarkas South Park ternyata juga merupakan alumnus Troma lewat Cannibal the Musical.

Marisa Tomei sempat berkarir dalam sinema Troma The Toxic Avenger (foto: Troma)

Bila kalian ingin memahami Troma maka kalian harus memahami Taoisme terlebih dahulu.

Begitulah kalimat awal yang saya kutip dari Kuratorial Troma di laman website MUBI. Kuratorial berjudul The Vulgar Disruptor : Troma Restored adalah koleksi film yang disusun oleh Matt Carlin. Dari kuratorial ini kita bisa tahu bahwa ada 6 film Troma yang punya makna khusus dalam sejarah panjang yang sudah dibuat oleh Lloyd Kaufman dan Michael Herz bersama Troma studio. Berikut adalah 6 film tersebut:

Poster film The Toxic Avenger (foto: Troma)

1 . The Toxic Avenger

Film ini menjadi maskot Troma dan karakter toxic superhero di dalamnya kini menjadi patung pelindung pintu masuk Tromaville (lokasi studio Troma berada). Filmnya sendiri menceritakan seorang petugas kebersihan bernama Melvin Fred yang bekerja di sebuah tempat Gym. Melvin sering kali menjadi korban perundungan karena kondisi fisiknya. Suatu ketika dia mengalami kecelakaan yang melibatkan limbah beracun. Kemalangan ini membuatnya menjadi sosok superhero dunia bawah tanah yang menumpas ketidakadilan di muka dunia atau paling tidak di sekitar New Jersey.

Tromeo and Juliet (1996), adaptasi William Shakespeare dengan gaya Troma (foto: Troma)

2 . Tromeo and Juliet (1996)

Apa jadinya jika karya paling monumental buatan Shakespeare diolah dan disadur menjadi satu cerita baru yang kaya akan komposisi kelas B? Cipratan darah di mana-mana, bola mata yang keluar, orang-orang aneh saling bertengkar satu sama lain plus bumbu-bumbu narkotika dan mirasantika namun ternyata ada kisah teramat romantis di dalamnya? Anyone

Inilah karya Troma Studios yang paling romantis dan sweet as revenge. Film ini membuktikan bahwa Troma bisa menyentuh hati para penggemarnya yang biasa disebut sebagai “Tromite” karena telah memberi mereka film romantis yang apa adanya dan sederhana. Naskah film ini ternyata ditulis oleh James Gunn yang sekarang tenar dan bersinar bersama Marvel Cinematic Universe. James Gunn dibayar sebesar 150 Dolar AS dalam penggarapan naskah untuk menciptakan Romeo dan Juliet versi “modern exploitation classic”. Film ini bahkan menjadi salah satu film yang paling brutal di era 90an bersama dengan Braindead-nya Peter Jackson. Jangan lewatkan pula kemunculan almarhum Lemmy Kilmister dari Motorhead.

Tromeo and Juliet bercerita tentang kisah cinta dua manusia yang penuh akan halang rintang lantaran kedua orang tua mereka bersaing bisnis bioskop film “semi”. Tromeo adalah seorang filmmaker yang tinggal di mobilitas kota New York dengan gaya hidup American way dan Juliet adalah seorang anak konglomerat kaya yang sedang mencari cinta sejati di dunia underground. What a premise.

Poster film legandaris Bloodsucking Freaks (1976) yang diproduksi 2 tahun sejak lahirnya Troma (foto: Troma)

3 . Bloodsucking Freaks (1976)

Troma Studio mendapatkan jiwa dan suaranya bukan dari film tentang ayam mutan yang menyerang manusia dan menularkan penyakit zombie lewat restoran cepat saji seperti di film Poultrygeist: Night of the Chicken Dead.  Selebrasi juga bukan pula datang dari narasi petugas kebersihan yang tiba-tiba menjadi superhero mutan seperti di film The Toxic Avenger. Tidak disangka ternyata Bloodsucking Freaks lah yang memberi tanda bahwa Troma Studios telah lahir ke dunia untuk mengangkat derajat film kelas “B”. Dari film ini, Troma mendapat profit pertamanya lewat penjualan dan pemutaran. Film kelas “B” ini adalah salah satu film awal Troma Studios dalam perjalanan panjang karirnya. Bagi Lloyd Kaufman dan Michael Herz,  film ini adalah sebuah artifak dalam jagad sinematik.

Bloodsucking Freaks berkisah tentang Sardu, seorang ketua dan pemilik pertunjukan teater bernama Theater of Macabre. Sardu dan asistennya sering kali mempertunjukan atraksi-atraksi ekstrem di dalam pertunjukan. Atraksi tersebut seringkali memakan korban nyawa tapi para penonton yang hadir beranggapan bahwa apapun yang ditampilkan di acara teater kelas bawah hanyalah kebohongan belaka. Keteledoran inilah yang menjadi kesempatan Sardu dalam mempraktikkan kejahatannya tersebut hingga suatu ketika Sardu dan asistennya menculik seorang bintang Balerina. Kasus ini menjadi sorotan media internasional dan tentunya pihak kepolisian. Akankah sardu tetap lolos kali ini? 

Salah satu adegan dari film Frightmare (1983) karya  Norman Thaddeus Vane (foto: Troma)

4 . Frightmare (1983)     

Film ini ingin menciptakan figur yang dapat dikenang sepanjang masa semacam aktor Bela Lugosi. Ide tersebut dituangkan dalam premis seorang aktor Horor legendaris dunia yang tiba-tiba saja meninggal. Respon yang dilakukan oleh para pecinta film Horor fanatik bernama “The Horror Society” adalah berusaha untuk menculik jenazah aktor tenar tersebut. Imbasnya, terjadilah kejadian yang tidak terduga dan akan membuat film ini persis seperti yang kalian harapkan datang dari film horror kelas “B” pada tahun 80an.

Frightmare adalah film Troma Studios yang cukup bagus dan lengkap dalam segala aspek mulai dari plot sampai ke teknis pengambilan gambar. Hasilnya seakan-akan memiliki kesan tersendiri yang selama ini tidak pernah ditampilkan oleh Troma Studios. Keunggulan ini membuatnya menjadi salah satu film Troma yang wajib ditonton. 

Poster film Surf Nazis Must Die yang rilis pada tahun 1987 (foto: Troma)

5 . Surf Nazis Must Die (1987)

Dari judulnya saja kita akan tahu ke arah mana film ini akan berselancar. Dunia sinema boleh saja punya cerita epik tentang pertempuran masa depan yang penuh dengan aksi kejar-kejaran mobil dan berbagai manusia dengan kendaraan aneh, saling bunuh satu sama lain seperti yang ada di film Mad Max. Kita juga bisa terbuai dengan kisah pertempuran memperebutkan sebidang tanah karena Bumi di masa depan sudah tenggelam seperti yang terjadi di film Water World. Film-film tersebut adalah fantasi tentang para manusia dewasa yang mengatur jalannya kehidupan di masa perang apokalips/distopia. Tapi apa yang terjadi kalau semua karakter dalam judul-judul tadi digantikan oleh anak-anak remaja tanggung? Sudah jelas mereka pasti tidak akan peduli dengan segala yang rumit dan merepotkan. Hal yang mereka pedulikan hanyalah bagaimana hidup dengan cara yang menyenangkan serambi berselancar di atas ombak laut nan indah. Semua idealisme tersebut menjadi masalah ketika garis pantai tadi dijaga dan dikontrol secara tangan besi oleh para remaja berpaham Neo Nazi. Sudah pasti perlu pertarungan demi bisa berselancar ke hamparan ombak yang menggoda tersebut. Ide yang sederhana juga absurd tapi tidak akan kamu temukan dari film manapun!

Film Dokumenter yang membahas rilisan fisik dan sinema Troma berjudul VHS Massacre (Foto: MUBI)

6 . VHS Massacre : Cult Films and the Decline of Physical (2006)  

VHS Massacre adalah satu-satunya film Dokumenter dalam perayaan sinema Troma lewat kuratorial MUBI. Film Dokumenter ini berfokus pada budaya mengoleksi rilisan fisik seperti kaset VHS yang mana masih sering digunakan oleh produsen Film kelas “B”. Tidak hanya itu saja. Film Dokumenter ini juga mengkaji beberapa tokoh ikonik dalam sejarah film-film kelas “B” seperti Joe Bob Briggs, Greg Sestero, Debbie Rochon, Deborah Reed dan pastinya Lloyd Kaufman dan Michael Herz. 


Artikel ini akan berlanjut minggu depan dengan bahasan hubungan Troma dan sinema Indonesia pada masa orde baru!

Edvan Apriliawan, Jakarta Cinema Club