Film Minggu Ini 11: Memori Rilisan Fisik Sampai Dekadensi Moral

Terkadang memilih film dapat memakan waktu yang lama bahkan sampai keinginan untuk menonton pun dapat pula menghilang. Baik menonton untuk pertama kalinya maupun menonton ulang, membahasnya kembali bersama teman atau keluarga pastinya tidak kalah menyegarkan.


Semoga artikel Film Minggu Ini dapat membantu mempersingkat proses tersebut. Selamat berakhir pekan!

Faiz: My Night at Maud’s (Eric Rohmer, 1969)

Segmen ke-4 dari Moral Tales milik Eric Rohmer yang berjudul My Night at Maud’s (foto: Compagnie Française de Distribution Cinématographique)

My Night at Maud’s adalah film tentang cinta, pertaruhan yang kita buat atas nama cinta, dan juga ujian-ujian yang kita hadapi untuk cinta tersebut.

Meskipun premis di atas terdengar klise, salah satu daya tarik film ini adalah bagaimana sutradara Eric Rohmer memberikan perhatian penuh kepada aspek “pertaruhan” secara filosofis dari perjalanan cinta sang karakter utama, Jean-Louis (Jean-Louis Trintignant). Di awal film, kita segera melihat ia jatuh cinta kepada seorang wanita bernama Francoise (Marie-Christine Barrault), yang ia lihat di misa yang biasa ia datangi. Dia belum bicara dengan wanita tersebut namun memutuskan bahwa wanita tersebut bisa menjadi istrinya. Ia berharap, bahkan bertaruh kepada dirinya bahwa dia akan bersama dengan wanita tersebut suatu hari, seperti layaknya seorang manusia bertaruh bahwa Tuhan itu ada di teori Pascal tentang wager milik seorang filsuf prancis, Blaire-Pascal.

Pertemuan antara dirinya, seorang wanita bernama Maud (Francoise Fabian), yang dikenalkan oleh temannya, Vidal (Antoine Vitez), di pertengahan film menjadi ujian bagi dirinya. Kepercayaan Jean-Louis yang berbeda dengan teman-temannya membuat ia tergoda untuk melihat kembali nilai-nilai yang ia percayai, dan ia menjadi manusia yang lebih baik karena hal itu.

Hingga pada akhirnya, film ini berakhir dengan sebuah adegan, dengan twist yang me-recontextualisasi apa yang Jean-Louis ketahui, tentang cinta dan kepercayaan, pada Tuhan dan juga pada Francoise. Wonderful film.

Film Minggu Ini pilihan Faiz dapat kamu tonton di Criterion Channel

Baca juga: On François Truffaut’s Jules and Jim: A Bizarre Love Triangle


Christian: All Things Must Pass: The Rise and Fall of Tower (Colin Hanks, 2015)

Kelahiran dan kematian toko musik Tower Records terekam dengan apik dalam All Things Must Pass (foto: Gravitas Ventures)

Ketika lebih banyak beraktifitas di rumah selama pandemi, kenangan akan kunjungan ke toko-toko di masa lalu kerap muncul. Tidak bisa dipungkiri, ketika kita dulu hidup dalam era analog atau rilisan fisik (kaset pita/CD/vinyl/DVD/Betamax), pasti ada fantasi akan kemungkinan untuk mendapatkan akses yang lebih mudah. Apa yang kita inginkan lebih banyak daripada apa yang kita punya. Pikiran ini pula yang membuat sensasi pergi ke toko musik/film menjadi mirip dengan tamasya di pantai. Melihat bagaimana album musik terpajang rapi di toko mendorong kita ingin tahu apa sebenarnya isi dalamnya. Masa itu adalah ketika cara mengapresiasi musik yang dekat dengan hidup kita ada dalam bentuk kepemilikan bentuk padat karya tersebut. Tidak ada yang menyaingi perasaan istimewa ketika kita memindahkan apa yang ada di toko musik/film ke lemari kamar di rumah. Jaman sudah berubah dan gaya hidup digital akhirnya perlahan membunuh antusiasme tersebut walaupun bukan berarti tidak ada nilai positifnya.

Film dokumenter besutan Colin Hanks yang diambil dari judul album George Harrison ini merekam sejarah salah satu toko rilisan musik legendaris AS, Tower Records. Unit usaha ini dimulai dari sebuah keluarga sampai dapat menghidupi ratusan bahkan ribuan keluarga lainnya karena perkembangannya yang pesat. Menonton film ini dapat membuat kita tersenyum melihat begitu berwarnanya cara manusia di masa lalu melihat karya seni sebagai kesatuan yang tangible.

Film Minggu Ini pilihan Christian dapat kamu tonton lewat akses TUBI (AS) secara resmi dan gratis.


Ed: Closer  (Mike Nichols, 2004)

Dekadensi moral dalam hubungan asmara dan pertemanan di Closer (foto: Columbia)

Seseorang yang berharga bagi saya pernah berkata bahwa kunci dalam sebuah hubungan manusia saat berkomitmen untuk mencintai satu sama lain, adalah komunikasi dan introspeksi diri. Tanpa itu semua maka hubungan yang sehat tidak akan pernah terwujud.

Kemenangan visual menjadi kelebihan film Closer. Visual yang dapat membagi secara adil kepada 4 peran tokoh utama di dalamnya. 4 peran yang saling berperang untuk mendapatkan cinta paling sempurna. Sayangnya kuartet ini seakan lupa akan cara berkomunikasi, egois dan  tidak mau melakukan introspeksi diri.

Saya mengatakan Closer menang dalam mewujudkan visual kisah perang cinta karena film ini tidak hanya menjual huru-hara perselingkuhan saja. Film ini  juga mengajarkan bahwa kita tetap bisa menemukan cinta yang tulus di dalam hubungan yang paling menyedihkan sekalipun.

2 wanita dan 2 pria, seorang penulis, seorang penari striptis, seorang fotografer, dan seorang dokter kulit. semuanya saling mengorbankan segalanya demi bisa menemukan belahan jiwanya. Siapa yang akan menang? Cinta yang Eros atau Cinta yang Agape? Ada baiknya kalian saksikan sendiri hasil akhir dari film ini.

Film Minggu Ini pilihan Ed dapat kamu tonton akses di Amazon Prime Video.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *