Meiko Kaji: Manis seperti Dendam

Dalam artikel editorial kali ini, kita akan berkenalan dengan sosok legendaris dari perfilman Jepang, Meiko Kaji. Sepanjang karirnya, Meiko Kaji sudah berakting di lebih dari seratus judul film. Selain itu, ia juga merupakan salah satu musisi dengan repertoar yang tak kalah gemerlapnya. Apa sebenarnya yang membuat aktris ini menarik untuk dibahas?

“Siapa kamu?” tanya seorang penjahat yang bersimbah darah akibat tebasan pedang

Perempuan berkimono putih menjawab, “Aku adalah Dendam!“

Kutipan di atas merupakan sebuah dialog yang diambil dari adegan pembuka dalam film Lady Snowblood (1973) yang diucapkan oleh karakter Yuki Kashima (Meiko Kaji) kepada musuhnya.

Saya bisa menggambarkan sosok Meiko Kaji melalui dua buah judul Novel karya Eka Kurniawan: 1) Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, dan 2) Cantik itu Luka. Kedua judul buku ini cocok sekali untuk membayangkan keseluruhan dari Meiko Kaji, yaitu pribadi yang cantik namun penuh akan luka dan juga senantiasa merindu pada hari pembalasan. 

meiko kaji jakarta cinema club
Karakter Yuki Kashima (Meiko Kaji) dalam salah satu adegan di film Lady Snowblood (foto: Tokyo Eiga/Toho)

Meiko Kaji adalah idola remaja pada era flowers generation yang terkenal akan sosoknya sebagai wanita independen. Ia berkarir melalui banyak film yang disutradarai oleh berbagai nama terkemuka di jepang. Ia juga selalu tampil berpakaian modis, rambutnya yang hitam panjang lengkap dengan tatapan mata sangat tajam serta senyum teramat misterius. Semua elemen ini berhasil membuatnya terlihat begitu anggun bagaikan Monalisa dari Asia Timur.

Singkat kata, Meiko Kaji telah menjadi wajah dari gerakan perlawanan generasi muda di Jepang terhadap penindasan dan ketidakadilan atau sekedar aktivitas Rebel without a cause. Melalui dia juga karakter wanita di dalam film bisa tampil menjadi sosok yang kuat dan dapat diandalkan. Dia akan selalu diberi label sebagai mesin pembalas dendam namun juga selalu diingat sebagai seseorang yang bertindak adil sejak dalam pikiran.

Aktris ini memulai karirnya lewat seni akting dalam berbagai film drama romantis seperti: Aitsu to no bouken, Namida kun sayonara, Zessho dan Yogiri yo kon’ya mo arigato. Semua film ini beredar sejak tahun 1965 sampai dengan 1969.  

meiko kaji jakarta cinema club
Selain karir briliannya dalam film, Meiko Kaji juga dikenal sebagai musisi yang telah menelurkan belasan album

Meiko kemudian berkecimpung di film bergenre kriminal dan action yang berjudul Nihon zan kyosen tahun 1969. Saat itulah seorang sutradara bernama Masahiro Makino menyadari bakat akting yang dimiliki oleh Meiko Kaji sangatlah berkualitas. Berangkat dari sini, Masahiro mencoba mengorbitkan Meiko ke dunia film yang lebih luas lagi. Lewat Masahiro jugalah nama ‘Meiko Kaji’ diberikan karena sebelumnya Meiko menggunakan nama aslinya (Masako Ota) ketika bermain di dalam film Drama. Sejak diorbitkan oleh Masahiro Maniko pada tahun 1970 sampai 1971, Meiko Kaji berhasil ikut dalam film bergenre kriminal dan petualangan yang berjudul Stray Cat Rock, sebuah film yang memiliki 5 seri berturut-turut. Hanya memakan satu tahun proses pembuatan untuk menghasilkan 5 film dengan tema yang kurang lebih sama yaitu kenakalan remaja. Serial film Stray Cats Rock ini agak unik karena setiap film memiliki jalan cerita serta penokohan karakter yang berbeda-beda namun yang pasti Meiko Kaji selalu tampil sebagai tokoh utamanya.

Stray Cat Rock hadir dengan sub judul sebagai berikut:

  • Stray Cat Rock: Delinquent Girl Boss (1970)
  • Stray Cat Rock: Wild Jumbo (1970)
  • Stray Cat Rock: Sex Hunter (1970)
  • Stray Cat Rock: Machine Animal (1970)
  • Stray Cat Rock: Beat’71 (1971)
meiko kaji jakarta cinema club
Poster film Stray Cat Rock: Delinquent Girl Boss (1970; foto: IMDb)

Stray Cats Rock bisa dibilang adalah awal dari sepak terjang Meiko mendapatkan julukan wanita yang bebas, punya banyak pilihan hidup dan sebagainya. Nama Meiko cepat terdengar dan dibicarakan dari mulut ke mulut. Beruntunglah karir Meiko Kaji lahir di saat yang tepat ketika era Flowers Generation sedang mewabah dan film-film dengan tema kebebasan atau kehidupan yang bohemian sedang sangat digandrungi oleh banyak orang.

Setelah satu tahun penuh tampil sebagai remaja yang sedang mencari jati diri, kini nasib memilih Meiko untuk berperan menjadi “kalajengking pencabut nyawa dari penjara ke penjara” melalui film berjudul Female Prisoner #701: Scorpion (1972). Sekali lagi Meiko bisa membuktikan bahwa dirinya adalah pribadi yang bebas sebebas-bebasnya bahkan ketika dia ada di dalam penjara sekalipun. Seri Female Prisoner Scorpion ini terbagi menjadi 4 buah film berkelanjutan di mana naskahnya sendiri diambil dari Manga dewasa berjudul sama karya komikus senior Toru Shinohara. Fenomena ini menjadikannya sebagai salah satu Saga balas dendam paling epik sepanjang sejarah perfilman Jepang.   

Dunia dingin di balik jeruji besi membuat Meiko makin mantap untuk dikenal. Maka dari itu sudah seharusnya Female Prisoner Scorpion layak masuk ke jajaran film “cult”. Bagaimana tidak 4 seri film ini berfokus menggali rasa perihnya menjadi narapidana juga siksa batin ketika kita menjadi seorang buronan yang terus-menerus dikejar para polisi tanpa rasa segan untuk menghabisi nyawa orang lain agar dapat mengorek info keberadaan kita.

Tidak main-main julukan Sasori atau kalajengking melekat pada Nami Matsu (Meiko Kaji) karena Nami benar-benar seperti kalajengking yang bertindak sangat sederhana. Jika kalian berani merusak suasana hatinya maka siap-siaplah untuk menderita. Jangan fokus pada capit yang dimiliki kalajengking karena sesungguhnya ekornyalah yang mematikan. Begitu pula ketika berhadapan dengan Nami Matsu. Jangan fokus pada shotgun yang dia todongkan tapi waspadalah terhadap kecantikan wajahnya karena kecantikan dapat membunuh banyak orang.

meiko kaji jakarta cinema club
Julukan Sasori atau kalajengking melekat pada karakter Nami Matsu dalam saga Female Prisoner Scorpion (foto: Toei Company)

Female Prisoner Scorpion hadir dengan beberapa sekuel:

  • Female Prisoner #701: Scorpion (1972)
  • Female Prisoner Scorpion: Jailhouse 41 (1972)
  • Female Prisoner Scorpion: Beast Stable (1973)
  • Female Prisoner Scorpion: #701’s Grudge Song (1973)

Kalau sudah membicarakan dua saga film paling ikonik yang dibintangi oleh Meiko Kaji (Stray Cat Rock dan Female Prisoner Scorpion), cepat atau lambat kita akan sampai pada puncak karir Meiko Kaji sebagai wanita yang penuh angkara murka. Puncak itu bernama Lady Snowblood (1973). Ini adalah pencapaian Meiko Kaji dalam melebur bakat aktingnya menjadi satu kesatuan dalam meramu segala emosi antara rasa sedih, kesepian, muram, sengsara, duka cita dan hanya punya dendam kesumat sebagai baterai kehidupannya.

Pakaian yang dia kenakan sekarang adalah kimono berwarna putih bersih sama seperti warna salju agar nantinya darah yang ditumpahkan bisa lebih jelas terlihat!

Dalam Stray Cat Rock kita bisa melihat Meiko Kaji sering terlibat kejar-kejaran dengan menggunakan sepeda motor untuk menemukan musuh atau sekedar bertahan hidup dari kejaran para Yakuza. Lalu pada Female Prisoner Scorpion kita disuguhkan sosok Meiko Kaji yang mengenakan pakaian serba hitam ketika ingin mencabut nyawa musuh-musuhnya sesuai dengan julukannya “Sasori” atau kalajengking dan warna hitam yang memang cocok untuk seorang kalajengking. Citra ini akan tergantikan di film Lady Snowblood. Ia tidak lagi ngebut dengan Honda 1300 di jalan raya, juga tidak lagi memakai pakaian serba hitam hanya untuk mempertegas hawa pembunuhnya. Meiko Kaji berubah 180 derajat. Kali ini dia berjalan kaki dengan anggunnya untuk berburu jiwa-jiwa yang berdosa. Pakaian yang dia kenakan sekarang adalah kimono berwarna putih bersih sama seperti warna salju agar nantinya darah yang ditumpahkan bisa lebih jelas terlihat!

Bukan lagi tampil sebagai kucing liar dan kalajengking, karena kini dia adalah sosok dari Dewi Kematian itu sendiri, dia adalah “Yurei”, dia adalah “Yokai”, dia adalah Shinigami berkimono putih berpayung ungu dan dingin seperti salju.

Tidak ingin berlama-lama inilah daftar film wajib yang harus ditonton dari Meiko Kaji:

1 | Lady Snowblood (1973)

Ini adalah film bernuansa politik tentang bergejolaknya era Meiji 15 (1882), di mana para tokoh-tokoh politik yang ingin merubah keadaan negara Jepang pada saat itu dapat dipastikan akan punya musuh di berbagai tempat. Naasnya inilah yang terjadi kepada orang tua Yuki, dan berakhir dengan terpenjaranya sang ibu. Selama dipenjara, ibu dari Yuki merelakan tubuhnya untuk ditiduri setiap sipir di dalam penjara, dengan tujuan agar sebelum kematiannya dia dapat melahirkan seorang anak yang nantinya dapat membalaskan dendam-dendamnya terhadap 4 orang tokoh masyarakat yang sudah membuat seluruh hidupnya hancur berkeping-keping. Kini Yuki sudah terlahir ke dunia, dilatih dan dibesarkan oleh seorang guru spiritual yang mendidiknya dengan keras namun bijaksana. Dan saat Yuki berumur 20 tahun, tibalah saatnya untuk Yuki untuk mencabut nyawa.

Lady Snowblood (1973), film arahan Toshiya Fujita yang menjadi salah satu inspirasi Quentin Tarantino ketika menulis Kill Bill (foto: Janus Films)

2 | Female Prisoner #701: Scorpion (1972)

Coba bayangkan. Anda sedang berada di Pulau Themyscira, tempat di mana Wonder Woman dilahirkan dan para wanita Amazon lainnya hidup sebagai pejuang. Mereka kuat, teguh pada pendirian, dan di Pulau tersebut kamu tidak akan menemukan satu orang Laki-laki pun. Begitulah kiranya suasana di Penjara khusus perempuan di film ini, dengan perbedaan bahwa di sini terisi banyak sekali wanita yang tidak ramah terhadap tahanan lainnya.

Budaya memusuhi tahanan lain ini juga menimpa kepada Nami Matsushima, seorang wanita tidak bersalah dengan nasib sial kerena dikhianati oleh mantan kekasihnya yang merupakan seorang polisi detektif. Sang mantan kekasih menghianati dan malah berpihak pada Yakuza ketika Nami sedang menjalankan tugas darinya sebagai seorang mata-mata.

Sekarang Nami harus bertahan hidup dari siksaan para sipir terkejam di seluruh Jepang dan perkelahian antar sesama tahanan.

Female Prisoner #701: Scorpion, film arahan Shunya Itō produksi tahun 1972 (foto: TMDb)

3 | Female Prisoner Scorpion: Jailhouse 41  (1972)

Nami Matsuhima masih berperan sebagai tahanan, namun kali ini dia beserta enam napi lainnya berhasil melarikan diri dari penjara. Selama perjalanan Nami dan kawan-kawan banyak sekali mendapatkan halang rintangan, hingga akhirnya mereka tiba di satu desa tidak berpenghuni yang sepi layaknya pemakaman karena sudah belasan tahun ditinggalkan para penduduknya. Namun saat malam hari jatuh, tiba-tiba hembusan angin bagaikan badai terjadi dan bersamaan dengannya ada nyanyian seorang wanita yang datang entah dari mana asalnya.

Ternyata suara tadi milik seorang wanita tua renta yang misterius, dan dari sinilah dimulai berbagai adegan, dari yang surealis, horor dan penuh dengan metafora., Narasi film ini kemudian menjelaskan bahwa 7 jumlah tahanan yang kabur adalah gambaran dari 7 variasi dosa manusia. Nami juga kini punya rival baru, seorang wanita yang membunuh kedua anaknya sendiri dengan cara menenggelamkannya ke air dan menusukkan pisau ke perutnya sendiri  agar anaknya yang belum lahir juga ikut terbunuh. Tampaknya Shunya Ito sebagai sutradara ingin membuat satu film di mana genre aksi kriminal bisa bersatu dengan genre horror, dan itu berhasil dengan sempurna di film kedua dari saga Female Prisoner Scorpion ini, yang membuat kita seolah-olah sedang menyaksikan bagian dari film Kwaidan (1964).

Female Prisoner Scorpion: Jailhouse 41  (1972), instalasi kedua dalam saga Female Prisoner (foto: Asianmoviepulse)

4 | Stray Cat Rock: Sex Hunter (1970)

Jika kalian suka anime atau manga Sailor Moon, maka ini adalah tontonan yang cocok bagi mu, Stray Cat Rock series selalu menitik beratkan pada ikatan pertemanan para Wanita sama halnya dengan pertemanan yang dimiliki Sailor moon dan kawan-kawan. Hanya saja pada Stray Cat Series ada beberapa elemen yang tidak pernah lepas darinya, yaitu kekerasan, kriminalitas, kejaran-kejaran dengan motor yang sudah dimodifikasi,dan masih banyak lainnya yang membuatnya terlihat seperti Sailor Moon versi eksploitasi.

Stray Cat Rock: Sex Hunter adalah yang terbaik di antara seluruh Stray Cat series, karena kedalaman ceritanya yang membahas tentang isu rasisme. Di sini Meiko Kaji berperan sebagai Mako seorang gadis yang juga ketua kelompok The Alleycats.

The Alleycats berseteru dengan kelompok penguasa jalanan bernama The Eagles, yang diketuai oleh seorang pria bernama Baron, yang telah melakukan tindakan yang di luar batas, yaitu berburu keturunan berdarah campuran jepang – Afrika dan amerika adalah salah satunya. Baron mendatangi tiap hotel, tiap bar yang memainkan khusus musik Blues dan Jazz hanya untuk berburu warga berdarah campuran tadi. Maka demi menghentikan segala tindakan rasis yang dilakukan oleh Baron dan The Eagles, Mako juga The Alleycats pun harus bertindak tegas.

Kelompok penguasa jalanan yang menamakan dirinya The Alleycats secara iconic digambarkan dalam serial film Stray Cat Rock (foto: Nikkatsu)

5 | Shunya Ito: Birth of An Outlaw dan Shunya Ito: Directing Meiko Kaji  (2016)

Seperti sepantasnya seorang legenda harus diperlakukan, maka sebuah Dokumenter tentang Meiko Kaji dibuat oleh Arrow Video untuk merayakan rilisnya versi Blu-ray dari Female Prisoner Scorpion: The Complete Collection pada tahun 2016.

Arrow Video bisa dibilang adalah Criterion versi genre Horror, Cult, dan Gore. Dalam kuratorial ini, terlihat sekali kalau Meiko Kaji mendapat tempat yang spesial dimata para sutradara, penulis naskah, dan tim kreatif. Mereka menciptakan sosok Meiko Kaji sebagai aktris yang kental dengan keterlibatan dengan film berunsur balas dendam.

Di dalam dokumenter ini juga kita bisa tahu mengenai bagaimana Saga Female Prisoner Scorpion mendapatkan inspirasinya dari suatu buku tentang penjara Auschwitz yang berjudul Man Search Meaning karya Viktor e. Frankl, yang menjadi rujukan untuk menciptakan atmosfer di dalam film.

Kemudian untuk memperkental suasana mencekam, inspirasi juga datang dari film-film seperti Riot in Cell Block 11 (1954) dan The Cabinet of Dr. Caligari (1920). Nama-nama sutradara besar Eropa seperti Federico Fellini dan Ingmar Bergman juga tidak lupa disebutkan, karena telah menjadi point of reference untuk aspek emosional dari karya-karya yang ada.

Shunya Ito: Birth of An Outlaw, sebuah dokumenter tentang Meiko Kaji yang dibuat oleh Arrow Video (foto: IMDb)

Secara kesimpulan, karakter-karakter yang diperankan oleh Meiko Kaji memanglah hanya fiksi belaka, tapi dari mereka kita bisa banyak belajar bahwa di dalam hidup jangan pernah sekalipun menyebarkan benih-benih dendam kepada seseorang, karena jika benih tersebut sudah tumbuh dengan subur, maka akan muncul penyesalan yang sangat mendalam, dan selagi masih ada waktu sebaiknya janganlah sungkan untuk meminta maaf atas kesalahan yang kita perbuat.

Mine enemy is growing old,

I have at last revenge.

The palate of the hate departs,

If any would avenge.

-Emily Dickinson

Refleksi tentang Meiko Kaji ini ditulis (sambil mendengarkan lagu-lagu milik Meiko) melalui akses Criterion Channel, Tubi TV dan Arrow Films.


Edvan Apriliawan, Jakarta Cinema Club

Baca juga: Dialektika Film Kelas B dan Produksi Troma Studios

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *