Help Is On The Way: Nafas Kerja Domestik

Dalam artikel ini, Kontributor Tamu Jakarta Cinema Club, Alana Putra berbicara mengenai Help Is On The Way (2020), yang mengangkat kisah pekerja Migran Perempuan dan perjuangan mereka sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan untuk menyambung hidup.

Kamera mendaratkan keberpihakannya pada empat narasumber perempuan selagi merangkai kisah personal keempatnya dalam dua latar yang kontras. Titik awal narasi bermula dari suasana BLKLN (Balai Latihan Kerja Luar Negeri) di Indramayu, tempat di mana calon pramuwisma seperti Sukma dan Meri mengasah keterampilannya sebelum lepas landas ke negara tujuan, Taiwan. Beranjak dari situ, sudut-sudut perkotaan di Taiwan kemudian menjadi episentrum dalam menyusuri keseharian Muji dan Tari selaku pekerja migran yang telah lama menetap di sana.

Empat narasumber dalam Help is on the Way (2020) seyogyanya dapat disejajarkan secara horizontal karena kesamaan latar belakang keempatnya yang berasal dari lapisan masyarakat akar rumput. Batas tapal negara nekat mereka langkahi demi keberlangsungan hidup. Taiwan sebagai negara tujuan, seakan menandai upaya keempatnya dalam melompat ke tingkatan strata sosial yang lebih tinggi (upward mobility); sesuatu yang mustahil tercapai di kampung halaman lantaran ketimpangan ekonomi yang kian menganga mengonkretkannya bagaikan mitos belaka. Selama intervensi negara belum hadir dalam bentuk yang ideal, ujung pangkal pemecahan untuk melakukan mobilitas sosial secara vertikal sering kali hanya dapat terwujud lewat satu cara: migrasi.

Help Is On The Way Jakarta Cinema Club
Salah satu Pekerja Migran Indonesia dalam Dokumenter Help Is On The Way (foto:
Two Island Digital)

Feminization of Migration

Alih-alih meromantisirnya, film mengambil jalan tengah dalam mengulas isu feminisasi migrasi layaknya persoalan multidimensi dalam format dokumenter hybrid.

Taruhlah kasus Sukma, pramuwisma muda yang pernah bekerja di Malaysia dan memaknai keberangkatannya dalam bermigrasi sebagai upaya untuk memupuk masa depan. Sekiranya sejalan sesuai dengan harapannya, Sukma justru terjebak ke dalam lingkungan kerja yang memprihatinkan: ia teropresi, komunikasi dengan keluarganya terputus lantaran gawainya dirampas oleh sang majikan, pembagian jam kerjanya pun tak menentu (precariousness), hingga statusnya sebagai pekerja migran tak punya jaminan perlindungan apa pun.

Masa lalu Sukma di Malaysia melekat kuat dalam ingatannya, sampai isakan tangis pada adegan pembuka mengindikasikan kecemasannya bilamana hal serupa akan terulang kembali. Kerentanan Sukma merupakan triple burden yang diakibatkan karena persilangan posisinya sebagai perempuan, migran, sekaligus pekerja yang bergerak di sektor informal (pramuwisma). Ini mencerminkan posisi tawar pekerja perempuan migran pada umumnya yang tersegmentasi ke dalam ruang privat; mereka terisolasi, dapat sekonyong-konyong dideportasi apabila kebijakan imigrasi negara tujuan tidak mendukung, rawan mengalami diskriminasi dan/atau pelecehan seksual, dan profesinya pun tidak digolongkan ke dalam lingkup tenaga kerja “berkeahlian” — sehingga eksistensi pekerja domestik dan kawan-kawannya menjadi liyan di mata serikat pekerja.

Adapun Meri yang menegaskan kemiskinan struktural sebagai pangkal dari forced migration. Keterjepitan ekonomi yang tak berkesudahan membuatnya didesak oleh kedua orang tuanya untuk mengadu nasib ke negeri orang demi meningkatkan kualitas hidupnya secara materi untuk mensubsidi kebutuhan keluarganya kelak.

Sebagai perempuan muda, Meri justru lebih menghendaki pernikahan bersama sang tunangan alih-alih bermigrasi ke Taiwan. Namun bak terjebak dalam situasi fetakompli, Meri harus manggut dengan keinginan kedua orang tuanya sekalipun sanubarinya berkata sebaliknya. Gejolak penolakan ia represi dalam batinnya, yang walhasil membentuknya sebagai pribadi pemurung.

Meri seolah menjadi tumbal atas kesenjangan sosial yang gagal ditanggulangi pemerintah sekaligus ketidakberdayaan figur laki-laki (bapak dan tunangannya) dalam menunjang kebutuhan ekonomi; “kodrat” mereka. Konstruksi gender yang jamak diyakini masyarakat setempat lewat peran laki-laki sebagai pencari nafkah utama seketika roboh di situ ketika Meri dengan mata pencahariannya kemudian dipanjatkan layaknya patron ekonomi bagi sang keluarga — bukan semata-mata komplementer.

Help Is On The Way Jakarta Cinema Club
Kehidupan para pekerja migran di Indonesia untuk menyambung hidup di Taiwan cukup beragam (foto:
Two Island Digital)

The Taiwanese Dream

Hawa sukacita kemudian hadir manakala layar beralih ke Taiwan untuk menyusuri keseharian Muji dan Tari selaku pekerja migran veteran yang telah lama menetap di sana. Muji adalah perawat lansia yang ditugaskan merawat Oma Ana, mantan pembawa acara televisi yang menderita parkinson sekaligus seorang janda yang ditinggalkan sang suami akibat urusan prokreasi. Ia tinggal seatap bersama Oma Ana dan satu anak perempuannya yang merupakan majikannya. Beruntung, rumah yang sepenuhnya berisikan (tiga orang) perempuan tersebut nyatanya membibitkan sisterhood solidarity yang kuat.

Hubungan antara majikan dan pramuwisma yang awalnya hierarkis dan menyerupai relasi patron-client, berubah menjadi penuh kehangatan dan akrab secara emosional. Ketika Muji hendak menisbatkan gaji pertamanya kepada sang suami di Indonesia, sang majikan bahkan melarangnya, hingga tersingkap bahwa selama di Taiwan, suami Muji terlibat perselingkuhan dengan perempuan lain.

Prahara rumah tangga tersebut kemudian diselesaikan lewat proses perceraian. Bagi Muji yang menjadi single mother, kehidupannya sebagai pekerja migran jelas dapat menjadi solusi untuk menafkahi anaknya lewat dana remitansi tanpa harus bergantung kepada mantan suaminya. Namun di sisi lain, pola pengasuhan anaknya yang lantas dialihkan kepada anggota keluarga perempuan lainnya ini mengisyaratkan adanya fenomena global care chain, di mana perempuan yang keluar dari kampung halamannya untuk mencari nafkah, harus mengorbankan perempuan lainnya untuk mengisi kekosongan tugas domestik/reproduktif yang mereka tinggalkan. 

Sementara Tari yang merajut hidupnya secara independen sebagai perawat di panti jompo, sukses menata hidupnya dengan makmur. Ia bahkan akan menenteng pulang gelar sarjana yang diperolehnya selama mengenyam pendidikan di Taiwan. Ibu Tari yang kerap mengkambinghitamkannya atas kematian sang ayah karena kekecewaannya terhadap Tari yang menikah muda (dan berakhir menjadi janda) menjadi pendorong utamanya untuk menapaki hidup baru di Taiwan. Motif Tari dalam bermigrasi sangatlah spesial. Sebab, biarpun berasal dari lapisan masyarakat kelas bawah, ia mengindikasikan adanya faktor non-ekonomi yang ikut berperan: keinginan melarikan diri dari keluarga dan mewujudkan identitasnya secara mandiri — in a sense; ia seakan terliberalisasi.

Keempat narasumber tersebut sepenuhnya merupakan perempuan yang lepas dari ketergantungan laki-laki: Sukma dan Meri merupakan lajang, sedang Muji dan Tari berstatus janda. Masing-masing profesi mereka juga bersandarkan pada sektor domestik: pramuwisma dan perawat lansia. Entah apakah ini terlampau berlebihan, namun pada titik inilah saya menengarai bahwasanya Help is on the Way nampak mempersoalkan migrasi sebagaimana sarana untuk menarasikan resistensi kelompok subaltern.

Potret keobrokan proses rekrutmen, pelatihan, dan penempatan Pekerja Migran Indonesia dalam Help Is On The Way (foto: Two Island Digital)

Simulasi Resistensi Subaltern

Istilah ini hadir sebagai respons dari Gayatri Spivak, filsuf feminis asal India, yang menyaksikan betapa tersubordinasinya posisi perempuan dunia ketiga baik di dalam ruang kultural maupun struktural. Keberadaan perempuan kemudian dipandang sebagai kelompok — meminjam istilah Gramsci —  subaltern, yang selalu direpresentasikan oleh “Yang Lain” (re-presented by the other). Pasalnya, suaranya tak dapat menembus kuasa hegemoni, sehingga ia tak dapat merepresentasikan dirinya secara mandiri (present by itself) tanpa kemelekatan kelompok dominan yang memiliki kuasa (dalam hal ini; laki-laki dan budaya patriarki). Di bawah bayang-bayang representasi, Spivak seolah menyerukan agar setiap perempuan harus mulai menekankan subjektivitasnya sendiri untuk mendobrak kabut hegemoni yang memasung gerak mereka. Demikianlah garis ringkasnya.

Di Indonesia, atribut subaltern kita dapati dari peran perempuan yang secara konstan diposisikan sebagai konco wingking untuk senantiasa berkiprah di belakang sang suami. Ia memasak, mencuci, menyuplai kebutuhan subsistensi, dan lain-lain. Namun tugas tersebut dianggap layaknya suatu “kodrat”. Oleh karenanya, kontribusi perempuan dalam pekerjaan domestik tersebut jarang atau bahkan sama sekali tidak diganjar upah; sehingga terciptalah dependensi ekonomi yang membuat perempuan memanjatkan ketergantungan kepada laki-laki selaku breadwinner.

Dalam Help is on the Way, empat narasumber perempuan yang bermigrasi dan menyambung hidupnya dari profesi yang berada di ranah domestik. Kerja domestik yang merupakan representasi “tugas” perempuan yang awalnya mengekang gerak mereka dan tidak memiliki nilai ekonomis (nirgaji), kini menyodorkan mereka sebuah peluang untuk lepas dari ketergantungan laki-laki dan meningkatkan taraf hidupnya secara independen. 

Trailer film Dokumenter Help Is On The Way (Two Island Digital)

Cara ini sungguh mewakili subjektivitas feminin atau ekspresi keperempuanan. Biarpun klaim ini tampaknya bersifat esensialis karena identitas gender perempuan sesungguhnya sangat majemuk, langkah berikut merupakan model kritik paling kasatmata untuk membuka mata publik — utamanya masyarakat patriarkal — bahwa wilayah domestik yang kerap diremehkan tersebut justru dapat memperlihatkan resistensi perempuan atas hegemoni patriarki. Pada titik inilah, perempuan subaltern bersuara lewat subjektivitasnya sendiri dan berhasil merepresentasikan dirinya tanpa keikutsertaan ideologi maupun keberadaan kelompok laki-laki.

Untuk menafkahi anak semata wayang Muji,

Sebagai perwujudan premis tadi,

Punya nilai romantis yang lebih,

Alasan yang sangat romantis,

Mendokumentasikan,

Rumus-rumus penguras emosi



Rizky Alana Putra adalah penulis part-time di @moviephobic. Ikuti dia di Instagram @critecion

Also read: Arrival : Kuasa Bahasa dan Kisah Agama

Penasaran dengan obrolan seru tim Jakarta Cinema Club mengenai film dan literatur? Follow dan dengarkan The Page by Jakarta Cinema Club, Podcast ekslusif yang bisa kamu akses di Spotify: