Pemenang Cannes Favorit Sepanjang Masa

Menyambut gaung perhelatan Cannes 2021, Jakarta Cinema Club mengumpulkan beberapa judul pemenang Cannes, khususnya Palme d’Or, yang paling berkesan di hati.

Palme d’Or merupakan penghargaan tertinggi dalam festival film Cannes setelah sempat mengalami pergantian nama (Grand Prix du Festival International du Film dan Grand Prix). Lewat festival seperti Cannes, Berlin atau Venice, kita diberikan jendela untuk mengetahui film-film dari negara lain yang layak untuk dikonsumsi. Berikut beberapa film pemenang Palme d’Or yang patut masuk dalam daftar tontonmu:


1| Brief Encounter (David Lean, 1945)

Brief Encounter, pemenang Grand Prix du Festival International du Film tahun 1946 (foto: Eagle-Lion)

Sepanjang daftar film yang pernah ditonton, belum pernah ada film sesempurna dengan durasi sesingkat Brief Encounter (1945). Hubungan asmara yang ditampilkannya mungkin hanya berlangsung sejenak, namun akan membuat kamu bermimpi selamanya. Brief Encounter adalah pemenang Grand Prix du Festival International du Film (sebutan sebelum Palme d’Or) tahun 1946. (Yus)

2| Taste of Cherry (Abbas Kiarostami, 1997)

Taste of Cherry, pemenang Palme d’Or tahun 1997 (foto: Zeitgeist Films)

Dari Ordinary People hingga Peppermint Candy, film bertemakan bunuh diri suka atau tidak suka memiliki niche tersendiri dalam dunia sinema. Taste of Cherry (1997) merupakan salah satu presentasi terbaik tentang pertanyaan eksistensialisme. Bercerita mengenai satu hari di kehidupan seorang pria yang sedang mencari seseorang untuk membantunya mengakhiri hidup, Kiarostami menggunakan kesempatan ini untuk menelaah konsep bunuh diri dimata kehidupan Iran yang cukup konservatif tanpa ada upaya untuk menghakimi. Terkadang kita bernyanyi mengenai betapa indahnya hidup, tapi mungkin karena kita tahu kehidupan akan berakhir pada suatu saat. Dalam Taste of Cherry, Life is at its most beautiful. Taste of Cherry adalah pemenang Palme d’Or tahun 1997. (Faiz)

3| Blowup (Michelangelo Antonioni, 1966)

Pemenang Cannes Blowup
Blowup, pemenang Palme d’Or tahun 1959 (foto: Metro-Goldwyn-Mayer)

Eksploitasi cerita dengan menggunakan medium analog (foto) sebagai mekanik? Bukan hanya atmosfer detektif amatir yang kita observasi di film ini, tapi juga bagaimana studio atau rumah sang fotografer yang memiliki arsitektur & interior nan unik. Hal ini membuat fantasi kita menjadi berkeliaran dengan rasa penasaran juga takut akan misteri apa sebenarnya yang hendak dipecahkan. Blowup adalah pemenang Palme d’Or tahun 1959. (Putra)

4| Apocalypse Now (Francis Ford Coppola, 1979)

Apocalypse Now, pemenang Palme d’Or tahun 1979 (foto: Omni Zoetrope)

Lewat proyek ambisius Apocalypse Now (1979), Francis Ford Coppola berhasil memvisualisasikan kegelapan di dalam lubuk hati manusia dengan indah dan hening. Proses pembuatan di balik layar juga (didokumentasikan lewat Heart of Darkness)sama menariknya dengan filmnya sendiri terlebih karena durasi syuting yang yang jauh lebih lama dari rencana awal. Apocalypse Now adalah pemenang Cannes untuk Palme d’Or tahun 1979. (Yus)

Baca juga: Horor Adalah ‘Apocalypse Now’

5| Paris, Texas (Wim Wenders, 1982)

Paris, Texas, pemenang Palme d’Or tahun 1984 (foto: 20th Century Fox)

Cara Wenders membingkai lanskap peradaban modern sangatlah hebat hingga mampu menyampaikan rasa alienasi dan ketakutan. Rasa takut ini timbul ketika kita sebagai manusia harus berhadapan dengan perkembangan pesat infrastruktur dan teknologi yang kian membuat manusia merasa kecil. (Yus)

Peran terbaik dalam karir gemilang Harry Dean Stanton? Paris,Texas (1982) adalah salah satu cerita terbaik mengenai siklus sebuah hubungan. Tiap karakter di film ini memiliki rasa sakit yang mendalam namun kita dapat melihat bahwa sang sutradara, Wim Wenders, memiliki ketertarikan untuk mengeksplorasi lebih dalam lagi akan konsep ‘luka masa lalu itu sendiri. Paris, Texas adalah pemenang Palme d’Or tahun 1984. (Faiz)

6| Black Orpheus (Marcel Camus, 1959)

Pemenang Cannes Black Orpheus
Black Orpheus, pemenang Palme d’Or tahun 1959 (foto: Dispat Films)

Kemeriahan Carnaval do Brasil, kebisingan musik yang mengalun non stop sejak menit pertama, tragedi dalam sebuah roman. Kesinambungan elemen tadi membuat kita terlena sampai lupa bahwa Black Orpheus sejatinya adalah interpretasi dari mitologi Yunani kuno. Pertama kali mendapat pemajanan lewat karya Jean Cocteau namun ternyata Black Orpheus lah yang membuat saya memberikan apresiasi lebih terhadap adaptasi kisah Orpheus dan Eurydice. Sampai sekarang Samba de Orfeu masih terngiang di kepala. Black Orpheus adalah pemenang Palme d’Or tahun 1959. (Putra)

7| Kagemusha (Akira Kurosawa, 1980)

Kagemusha, pemenang Palme d’Or tahun 1980 (foto: Herald Ace/Nippon Herald/Greenwich/Kobal)

George Lucas and Francis Ford Coppola menyelamatkan epik ini saat Studio Toho mengalami krisis keuangan yang berat. Siapa sangka ternyata mereka mengambil keputusan yang sangat tepat. Brilian dan menghantui, pada usia 70 tahun, Kurosawa tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Kagemusha adalah Kurosawa di puncak talentanya. Kagemusha adalah pemenang Palme d’Or tahun 1980. (Faiz)

8| Parasite (Bong Joon-ho, 2019)

Pemenang Cannes Parasite
Parasite, pemenang Palme d’Or tahun 2019 (foto: CJ Entertainment)

Parasite bisa dibilang masuk dalam jajaran film yang wajib ditonton oleh siapapun dan dari kalangan apapun. Sentimen perbedaan kelas dan obsesi di luar pakem moral dalam Parasite sangatlah menggelitik kita yang hidup bermasyarakat. Sangat dekat dengan kita. Satu hal menarik dari film ini juga adalah bagaimana peran arsitektur si ‘rumah’ sebagai salah satu karakter penting yang menghubungkan interpersonal dalam sebuah miniatur sistem sosial. Parasite adalah pemenang Cannes Palme d’Or tahun 2019. (Putra)


Yusgunawan Marto, Faiz Aziz & Christian Putra


Penasaran dengan obrolan seru tim Jakarta Cinema Club mengenai film dan literatur? Follow dan dengarkan The Page by Jakarta Cinema Club, Podcast ekslusif yang bisa kamu akses di Spotify:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *