Film Minggu Ini: 4 September 2020

Terkadang memilih film minggu ini dapat memakan waktu yang lama bahkan sampai keinginan untuk menonton pun dapat pula menghilang. Setiap akhir pekan, tim editorial Jakarta Cinema Club memberikan rekomendasi beberapa judul yang dapat ditonton lewat beberapa platform. Jika daftar film ini belum sempat kamu kunjungi sebelumnya, sekarang waktu yang tepat untuk mulai mengurangi watchlist. Menonton ulang film-film hebat ini dan membahasnya kembali bersama teman atau keluarga juga pastinya tidak kalah menyegarkan. Semoga artikel ini dapat membantu mempersingkat proses tersebut. Selamat berakhir pekan!


Putra: Faces (John Cassavetes, 1968)

Eksploitasi potret suasana pasca perceraian dalam Faces (1968) karya John Cassavetes tidak akan mudah untuk dilupakan. Seorang teman pernah memantik percakapan tentang sosok yang sederhana: apa yang dipikirkan seseorang selama perjalanan setelah baru saja menyudahi sebuah hubungan? Bagaimana jika perjalanan dalam kendaraan tersebut memakan waktu yang cukup lama? Faces menyorot krisis pernikahan yang sudah mencapai fase puncak. Ketika sang suami menyatakan keinginannya untuk bercerai, di situlah sesungguhnya film ini dimulai. Keduanya menyelam dalam lautan eskapisme semalam suntuk. Perselingkuhan yang liar tidak terelakkan.

Film Minggu Ini Jakarta Cinema Club
Gena Rowlands dan John Marley dalam Faces (foto: Continental Distributing)

Dialog dan monolog nan emosional terlihat seperti rentetan impromptu yang sangat wajar keluar dari mulut manusia yang sedang gelisah. John Cassavetes membuat film ini di kediamannya sendiri berikut dengan proses editingnya. Faces mendapat nominasi Golden Lion di Venice International Film Festival dan penulisan naskah orisinil terbaik di Academy Awards. Mungkin saja film ini juga yang membuat studio besar Hollywood menjadi panas dan kemudian merespon dengan peluncuran dana kepada para sineas independen lainnya. Selamat datang, New American Cinema. Film Minggu Ini pilihan Putra dapat diakses lewat Criterion Channel.

Rekomendasi lainnya: Shadows (John Cassavetes, 1959) dan Too Late Blues (John Cassavetes, 1961)


Ed: Gone Girl (David Fincher, 2014)

Ada opini publik usia pernikahan pada lima tahun pertama adalah masa-masa yang menentukan apakah sebuah pernikahan bisa bertahan sampai akhir hayat atau tidak. Karena pada masa inkubasi pernikahan tersebutlah kedua sifat pasangan suami-istri akan terbuka semuanya. Dari sepasang insan yang dimabuk cinta menuju proses pendewasaan yang sejati, dari cinta yang eros menuju ke cinta yang agape.

Film Minggu Ini Jakarta Cinema Club
Ben Affleck dan Rosamund Pike di film adaptasi novel karangan Gillian Flynn (foto: Regency Enterprises)

Beruntungnya bisik-bisik tetangga dalam teori lima tahun tadi ternyata bisa terwujud secara baik menjadi sebuah film, melalui David Fincher kita akan melihat bagaimana pernikahan menjadi suatu efek kupu-kupu. terlihat indah namun setiap kepakan sayapnya bisa menciptakan badai di berbagai tempat. Nick Dunne dan Istrinya Amy Elliott sedang ingin merayakan ulang tahun pernikahannya yang berusia lima tahun,  Namun ketika hari itu tiba Nick terkejut lantaran istrinya tercinta hilang bagai ditelan bumi. Amy adalah wanita terkenal karena kedua orang tuanya seorang penulis novel, kehilangan Amy membuat beberapa negara bagian menjadi ikut gempar dan sialnya bagi Nick masyarakat luas mulai berspekulasi bahwa Nick adalah dalang dibalik ini semua.

Percayalah ini bukan kisah romantis atau sebuah film motivasi, karena Gone Girl adalah situasi pernikahan ketika kedua pasangan di dalamnya punya ketujuh sifat dosa manusia, dan makin diperparah ketika motto “balas dendam tujuh kali lipat” saling melengkapi bumbu-bumbu pernikahan ini. Film Minggu Ini pilihan Ed, Gone Girl, dapat diakses melalui Netflix.


Faiz: Biutiful (Alejandro Gonzalez Inarritu, 2011)

Biutiful adalah sebuah cerita tentang Uxbal (Javier Bardem), seorang kriminal jalanan di Barcelona. Dia tidak memiliki hidup yang mudah. Istrinya mengalami bipolar. Bisnisnya pun mulai berantakan, sehingga dia harus menyogok polisi untuk bisa bertahan hidup untuk keluarganya. Hingga suatu hari, di sebuah kunjungan ke klinik, ia mendapat sebuah kabar…….

Biutiful sangat emosional karena Inarritu mengerti bahwa salah satu hal yang paling menguras emosi seseorang, adalah penyesalan. Saat dihadapi dengan kemungkinan menghadapi akhir hayat, Inarritu memaksa kita untuk bertanya, “How have you felt about your life? What will you leave behind?”

Bila pertanyaan diatas sekilas mengingatkan anda tentang suatu masterpiece dari Akira Kurosawa bernama Ikiru, maka Inarritu mengambil langkah lebih jauh perihal dilema moral ini.

Film Minggu Ini Jakarta Cinema Club
Javier Bardem dalam film Biutiful (foto: Televisió de Catalunya/Focus Features International)

Pada suatu ketika, kita melihat Uxbal mencoba untuk memperbaiki semua sebelum terlambat, untuk meninggalkan jejak yang baik di dunia sebelum saat baginya tiba. Tapi tidak semua upayanya berjalan mulus, dan sejumlah kegagalannya memiliki konsekuensi tragis. Uxbal adalah orang yang sangat penuh kekurangan. Apa setelah semuanya, hidupnya merupakan sebuah kesia-siaan?

Biutiful bukan merupakan cerita ceria. Namun banyak pelajaran yang dapat dipetik dari film ini. Kalimat sebelum credits film ini muncul mengandung pesan yang sangat personal oleh Inarritu, dan naratif film ini merefleksikan hal tersebut. 

Film Minggu Ini pilihan Faiz dapat diakses via Tubi TV. Rekomendasi lainnya : Amores Perros (2001), Pain And Glory (2019)


Baca juga: Album Minggu Ini Vol. 17: Rumah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *