Edmund Yeo We the Dead: Rohingya dan Fantasi Pasca Kehidupan

Edmund Yeo, lewat We the Dead (Aqerat), mengajak kita untuk berdiam sejenak untuk melihat salah satu kasus kelam dalam peradaban yang dilihat dari sudut pandang sebuah elemen kecil dalam masyarakat. Setidaknya sekali dalam hidup kita, kita pasti pernah termenung sejenak dan bertanya akan sesuatu: Apa yang terjadi setelah hidup ini berakhir? Pertanyaan ini sederhana namun tidak ada satupun dari kita yang tahu jawabannya selain dengan terkaan hasil proyeksi dari mimpi yang pernah dialami atau pengetahuan dari agama yang dipelajari.

Bagi mereka yang religius, diskusi ini akan berlanjut dengan nosi surga dan neraka maupun reinkarnasi. Untuk mereka yang tidak beragama, responnya akan lebih beragam lagi.

Saya teringat salah satu materi stand-up komedian Louis C.K ketika ia bertanya apa yang akan terjadi setelah kamu meninggal? Jawabannya kurang lebih seperti ini: Banyak hal yang akan terjadi setelah kalian meninggal. Mungkin akan ada menara Eiffel yang baru, mungkin ada mahakarya baru yang dibangun. Tapi tidak ada dari itu semua yang melibatkan kalian karena kalian sudah meninggal. Modern existentialism at its best. Louis tidak ambil pusing akan kematian tapi fokus pada kehidupan. Beberapa bulan yang lalu saya menonton ulang Amarcord milik maestro Federico Fellini pada pemutaran di IIC Jakarta. Film ini punya puluhan (atau lebih?) adegan pendek seperti fragmen yang terlepas satu sama lain layaknya berada dalam mimpi. Momen di mana seorang tua mendapati dirinya hilang di tengah kabut merupakan salah satu highlight yang tidak mungkin kita lupakan seumur hidup. Ia berjalan sambil memegang tembok sebagai panduan sambil bertanya pada dirinya sendiri:

Where am I? I don’t seem to be anywhere. If death is like this, I don’t think much of it. Everything is gone. People, trees, birds, wine.

Well, up yours! Pria tua ini terus berjalan sampai seorang kusir kuda menghampiri. Sang pria tua berkata bahwa ia tidak tahu sedang berada di mana karena ia tidak bisa melihat rumahnya. Kusir menjawabnya dengan santai: kamu sedang berada di depan rumahmu sendiri. Saya selalu tersenyum ketika adegan ini muncul di Amarcord. Siapa sih yang nggak kebingungan jika jarak pandang akan suatu objek menjadi tidak jelas. Bahkan ketika kita menyetir dalam gelap saja kita kadang khawatir.

Review Film Edmund Yeo We the Dead
Louis C.K, stand up comedian yang sering membawakan topik Eksistensialisme sebagai humor dalam panggung (foto: New York Times)

Dua contoh respon terhadap pertanyaan akan kematian di atas diambil dari sudut pandang komedi. Pada umumnya, manusia biasanya cemas dan takut akan apa yang mereka tidak ketahui. Masih ingat teori Black Swan milik Nassim Nicholas Taleb? Oke. Tema inilah yang saya observasi ketika menyaksikan rentetan kemalangan di film berjudul We the Dead atau Aqerat, karya sutradara dari Malaysia, Edmund Yeo (2017). Mirisnya, film ini tidak ada unsur komedi sama sekali. Edmund menggali metafora peristiwa pasca kehidupan dengan realisme yang menyakitkan: grup Muslim minoritas Rohingya yang kabur dari persekusi, mencari ‘kehidupan baru’ setelah ‘kematian’ hanya untuk menghadapi penyiksaan baru dari komplotan human trafficker di Malaysia.

Review Film Edmund Yeo We the Dead
Edmud Yeo menyorot kasus yang menimpa grup Muslim minoritas Rohingya dari kacamata seorang kelas pekerja (foto: The Hollywood Reporter)

Dalam film ini, kita diajak melihat proses ‘kematian’ tersebut dari sudut pandang seorang buruh bernama Hui Ling (diperankan oleh Daphne Low). Hui berambisi untuk meninggalkan  Malaysia selamanya dan menabung agar bisa berlabuh ke Taiwan. Ia tinggal di sebuah kosan bersama seorang roommate yang berprofesi sebagai PSK. Kosan mereka kerap didatangi oleh kekasih sang roommate yang ternyata abusif. Suatu hari Hui memeriksa tabungannya yang disimpan di kosan telah raib dicuri oleh roommate dan kekasihnya. Dengan penuh amarah, ia mencari pasangan itu ke tempat kerja masing-masing dan tidak menemukan mereka lagi. Dalam keadaan putus asa karena merasa impiannya untuk pindah ke Taiwan telah sirna, Hui ditawari pekerjaan baru yang cukup misterius sampai kenyataan berangsur tiba ketika ia mulai melakukan tugasnya.

Pekerjaan baru Hui ternyata adalah sebagai tim dokumentasi komplotan human trafficker yang menculik para refugee Rohingya yang tiba di perbatasan. Ia harus merekam dan memotret para korban yang diculik dan disiksa untuk nantinya dikirim ke kerabat mereka sebagai ancaman. Apa yang terjadi setelahnya adalah beberapa peristiwa tragis yang memaksa Hui menjadi lebih terbiasa melakukan pekerjaannya. Di sini kita bisa melihat ironi ‘kehidupan pasca kematian’ dari dua perspektif: Hui dan para tawanan Rohingya. Hui sendiri berharap untuk mendapatkan kehidupannya kembali setelah seluruh uangnya dirampas namun justru potret akan kematianlah yang ia mesti jalani. Bagi para refugee Rohingya, mereka berharap dapat memulai kehidupan dari nol setelah pergi dari para penganiaya di tempat asalnya. Kenyataannya, mereka hanya mendapatkan neraka baru yang bahkan lebih keji. Kasus yang sama pun terjadi pada Hui yang beberapa kali mengalami kekerasan fisik dari atasannya karena ia membiarkan beberapa refugee kabur dari area penyekapan.

Review Film Edmund Yeo We the Dead
Hui Ling (diperankan oleh Dphne Low) berkomunikasi dengan Iblis melalui sebuah pertunjukan wayang (foto: Greenlight Pictures)

Semakin dalam kita masuk ke dunia Hui, kita mulai sadar bahwa apa yang dilihatnya telah bercampur aduk. Realita dan ilusi tergoreng menjadi sebuah masakan yang ia santap dalam keseharian. Ilusi yang saya maksud adalah ketika Hui seringkali melewati sebuah pertunjukan wayang seakan-akan ia sedang melihat dirinya sendiri sedang berkomunikasi dengan Iblis. Berikut monolog menarik dari pewayangan Iblis tersebut:

We are puppets of repetition. You repeat the same questions whilst I repeat the same answer. We are trapped in a never-ending dance.

Dalam sesi tanya jawabnya yang dikutip kantor berita Reuters pada Tokyo International Film Festival 2017, Edmund Yeo mengaku tergugah untuk menggali lebih dalam lagi analogi kematian dan kehidupan dalam We the Dead setelah membaca berita menyedihkan pada tahun 2015. Tajuk utama berita ini adalah ditemukannya kuburan massal para Rohingya korban penyelundup manusia di perbatasan Malaysia dan Thailand. Edmund Yeo menambah deretan sutradara muda Malaysia yang mendapat sorotan dunia setelah nama lain seperti Woo Ming Jin, Amir Muhammad dan Yasmin Ahmad.

Review Film Edmund Yeo We the Dead
Edmund Yeo We the Dead diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival dan Tokyo International Film Festival 2017 (foto: MUBI)

Tema yang diambil Edmund Yeo dalam We the Dead memang sangat gelap. Peradaban manusia dipenuhi oleh sejarah kelam yang melibatkan agama dan ras. Perang demi perang, pembantaian demi pembantaian, persekusi demi persekusi. Sampai kapan ini akan berakhir tidak akan ada yang tahu. Sama layaknya dengan pencarian jawaban untuk pertanyaan apa yang terjadi setelah kematian. Jika kita sadar kalau semua manusia memiliki anatomi yang mirip dan yang membedakan hanyalah identitas orang tua yang melahirkan, apa sebenarnya makna dari penindasan terhadap sesama manusia? Apa bisa kita santai sejenak dan tidak memikirkan atau bahkan memberikan kematian untuk sesama manusia seperti komedi yang ditawarkan C.K dan Fellini di awal?

We the Dead masuk dalam kurasi MUBI yang bertajuk Spotlight on Edmund Yeo beberapa waktu yang lalu. Film ini juga meraih Geber Award dalam perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival tahun 2017 dan menang dalam 2 kategori (Best Director dan Tokyo Gemstone Award) pada Tokyo International Film Festival di tahun yang sama. Refleksi We the Dead ini ditulis (sambil mendengarkan lagu-lagu milik P. Ramlee) melalui akses MUBI.


Christian Putra, Jakarta Cinema Club

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *