Modern Romance versi Albert Brooks

Dalam artikel ini, Faiz berbagi refleksi setelah menonton sebuah film komedi romantis berjudul Modern Romance. Mungkin tidak banyak yang mengetahui sosok Albert Brooks sebagai sutradara karena ia lebih dikenal sebagai aktor. Beberapa karyanya seperti Lost in America, Mother, Real Life dan Modern Romance masuk dalam jajaran film favorit kami.

Bukan, kita tidak sedang membicarakan Modern Romance versi Aziz Anshari. Kali ini kita pergi agak jauh ke belakang untuk melihat Albert Brooks menyuarakan pengambilan keputusan instan dalam asmara lewat film yang ia sutradari. Bagaimana anda tahu bahwa pasangan anda adalah pasangan yang tepat? Apakah karena pekerjaannya, sikapnya, atau kecocokan ia dengan anda? Atau mungkin kita ternyata melontarkan pertanyaan yang salah. Bagaimana jika pertanyaan itu diubah menjadi: apakah anda sudah nyaman dengan diri anda sendiri untuk hidup berpasangan?

Potret roman modern versi Albert Brooks yang dihiasi oleh emosi sesaat dan pengambilan keputusan yang instan (foto: Columbia)

Pertanyaan inilah yang menyelubungi penceritaan Modern Romance, salah satu masterpiece dari Albert Brooks. Bercerita mengenai seorang Editor film bernama Robert (Albert Brooks), awal film ini bahkan sudah memiliki keunikan tersendiri, dimana Robert memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Mary (Kathryn Harrold). Tidak ada cinta segitiga, ataupun masalah finansial dan sosial yang menyebabkan putusnya hubungan mereka. Robert hanya merasa tidak nyaman dan ingin sendiri. Mary dengan berat hati setuju, dan konflik utama film ini dimulai.

Saya tidak bisa menekankan lebih dalam lagi betapa briliannya performa Brooks di film ini. Terlepas dari sisi naratifnya yang solid, hidup dan mati Modern Romance di tangan penampilan Brooks sebagai Robert. Ada stretch yang panjang, sekitar 35 menit di pertengahan film dimana cerita film hanya terfokus pada Robert dan bagaimana ia menghadapi perasaannya terhadap Mary yang kembali tumbuh, dan Brooks berhasil menjual perasaan kesedihan dan keputusasaan yang dialami Robert. Seperti layaknya performa Woody Allen di Annie Hall, penampilan Brooks di film ini mungkin adalah yang terbaik dalam karirnya sebagai seorang aktor.

Sosok Robert yang gelisah sesaat setelah memutuskan untuk keluar dari sebuah hubungan (foto: Columbia)

Apa yang biasanya anda lakukan sesaat setelah kamu memutuskan sebuah hubungan? Menangis? Menghubungi teman dekat? Pergi ke bar dan mencari minuman? Menonton film? Membaca buku? Langsung mencari rebound? Atau malah kembali menghubungi sang mantan? Robert mengajak kita menyelami keabsurbdan kegiatan-kegiatan yang ia lakukan satu hari setelah ia menyadari bahwa ia masih ingin eksis dalam hubungan asmara. Bagaimana dengan Mary? Apakah lantas kita memaksakan ego kita sehingga menganggap apa yang kita rasakan setelah putus itu mestinya serupa dengan apa yang mantan pasangan kita rasakan?

Sebuah tontonan yang cocok di malam minggu, Modern Romance bukan hanya merupakan cerita yang menarik dari perspektif hiburan, namun juga sebagai sarana introspeksi diri sendiri dan juga hubungan kita dengan orang lain. Sedikit fakta unik, Stanley Kubrick ternyata merupakan fan berat film ini.

Albert Brooks dan Kathryn Harrold dalam Modern Romance (foto: Columbia)

Modern Romance disutradarai oleh Albert Brooks dan ditulis bersama dengan partner setianya, Monica Johnson. Film ini rilis pertama kali pada tanggal 13 Maret 1981 di Amerika Serikat. Kemiripan gaya komedi dan narasi dalam karya-karya Albert Brooks membuat dirinya sering disebut sebagai Woody Allen dari pesisir Barat. Film ini dapat anda disaksikan lewat akses berbayar Criterion Channel.


Faiz Aziz, Jakarta Cinema Club

Baca juga: Review Taipei Story: Keindahan dalam Ketidakpuasan, Ketakutan dalam Ketidakpastian

2 thoughts on “Modern Romance versi Albert Brooks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *